Radikalisme Itu Ga Asyik

Seminar mahasiswa dengan tema Membangun Generasi Perdamaian di Era Milenial digelar pada Selasa (24/09/2019) di ruang pertemuan lantai 4 Gedung Rektorat. Seminar ini diadakan oleh Prodi Studi Agama-Agama Fakultas Ushuluddin, Adab dan Humaniora (FUAH) IAIN Purwokerto.

Seminar dibuka oleh Dekan FUAH, Dr. Naqiyah. Dalam sambutannya beliau mengajak para mahasiswa untuk berperan dalam perdamaian ditengah kondisi dengan ragam masalah dan ragam pemahaman. “Kalian harus mengambil fungsi-fungsi itu agar tidak ada perselisihan, “pintanya dihadapan 140 mahasiswa FUAH.

Dr. Naqiyah juga menjelaskan jika Islam itu mengajak kebersamaan dan tidak mengingkari eksistensi keyakinan di luar Islam dengan mengutip Al-Qur’an Surat Ali Imran ayat 64.

Dalam seminar ini, panitia menghadirkan dua narasumber yaitu Irfan Amali penggagas Peace Generation dan Dr. Supriyanto Dosen IAIN Purwokerto.

Irfan Amali mengawali dengan mengilustrasikan beberapa contoh bagaimana sebuah pandangan terbentuk melalui penglihatan dan informasi yang beragam. Irfan lalu membuat pertanyaan, apakah pandangan kita selalu benar? Apakah kita bisa membangun asumsi berdasar apa yang kita lihat?  Berdasarkan apa kamu menebak? Apakah tebakan itu betul atau kebetulan?

“Jangan menghukum orang sebelum mengetahui lebih dalam, “tegas master lulusan Brandeis University ini.

Pada sisi lain Irfan menceritakan bagaimana pengalamannya hidup sebagai minoritas di Amerika Serikat dan pentingnya bersikap empati terhadap minoritas. “Intoleran itu timbul salah satunya karena kurangnya empati disamping prasangka, poor critical thinking, dan fanatisme, “ungkapnya.

Diabad 21, generasi damai harus mempunyai keterampilan dalam Critical Thinking, Collaboration, Communication, and Creativity.

Pada sesi berikutnya, Dr. Supriyanto berbicara bagaimana menggapai kebahagiaan dengan moderasi Islam atau wasathiyah, yakni sikap keseimbangan dalam beragama.

Mengutip Nashiruddin Ath Thusi bahwa kebaikan dan kesehatan jiwa berpangkal pada keseimbangan, sedangkan penyakit moral disebabkan karena berlebihan dan kekurangan.

Supriyanto memaparkan poin-poin moderasi Islam dalam aqidah, bermanhaj, tajdid, berhukum dan berinteraksi sosial.

“Islam adalah rahmat bagi semesta alam, sudah semestinya ramah, sejuk dan menebarkan kasih sayang, “katanya.

Untuk itu Supriyanto mengajak mahasiswa untuk tidak terjebak dalam paham radikalisme. “radikalisme itu ga asyik, menjebak dalam kebencian, banyak janji gombal dan semu. “ungkapnya.

Faktor-faktor akut radikalisme adalah pendidikan ‘rendah’, krisis identitas, kondisi ekonomi, keterasingan secara sosial budaya, keterbatasan akses politik, primordialisme dan etnosentrisme.

Print Friendly, PDF & Email