PEMIMPIN LAHIR DARI KEMATANGAN PROSES

HUMAS- Dalam rangka meningkatkan kesadaran mahasiswa tentang partisipasi demokrasi dan upaya membentuk pemimpin transformatif. Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA ) IAIN Purwokerto gelar seminar politik dan demokrasi, pada Kamis (7/12) di Auditorium utama IAIN Purwokerto. Mengambil tema membentuk pemimpin yang demokratis-transformatif agenda mendatangkan tiga narasumber.
Anggota komisi VI DPR RI Siti Mukaromah dalam kesempatan itu menyampaikan pandangannya tentang kepemimpinan. Menurutnya pemimpin yang baik adalah tidak menghalalkan segala cara dalam proses meraih kesuksesan. Kesuksesan menurut perempuan yang akrab dipanggil Erma merupakan buah dari kematangan berproses. Erma menyarankan kepada peserta yang sebagian besar mahasiswa IAIN untuk menikmati setiap proses kehidupan, dan terus membekali diri dengan berbagai ilmu penunjang apabila ingin menjadi pemimpin.
Legislator alumni STAIN Purwokerto itu juga berpendapat bahwa hakikat kepemimpinan adalah meningkatkan kemanfaatan. Maka seorang pemimpin harus menjadikan dirinya perantara dari sampainya sebuah kebaikan bagi masyarakat. Erma berharap pada masa yang akan datang banyak pemimpin yang baik akan lahir dari IAIN Purwokerto.
Sementara Kabagops Polres Banyumas AKP Suranto yang hadir mewakili Kapolres Banyumas menyampaikan seorang pemimpin adalah orang yang mampu memberikan pengaruh positif kepada bawahannya. Pemimpin menurut Suranto harus bisa juga menjadi contoh bagi bawahannya, karena jika suatu organisasi dipimpin orang yang kurang baik maka maka efek negatif yang akan muncul lebih besar. Pemimpin yang ideal menurut Suranto harus berani menanggung resiko dari setiap kebijakan organisasi yang telah diputuskan.
Komisioner KPUD Kabupaten Banyumas Ihda Aniroh menyampaikan tentang pentingnya keterlibatan mahasiswa dalam proses demokrasi. Karena menurutnya proses demokrasi sebagai upaya melahiran seorang pemimpin menuntut keterlibatan aktif dari seluruh lapisan masyarakat. Mahasiswa sebagai bagian dari masyarakat terdidik diharapkan Ihda perlu mengetahui tahapan tahapan pelaksanaan proses demokrasi yang ada di Indonesia.
Sistem demokrasi yang sudah dipilih Indonesia dalam menentukan seorang pemimpin baik di legislatif maupun ekseutif jangan sampai dikotori oleh oknum yang menghalalkan segala cara untuk meraih keuasaan. Karena hal itu akan berdampak pada pengelolaan negara yang rawan dengan kecurangan dan berpotensi merugikan masyarakat. Terjadinya praktik money politik atau kecurangan lainnya biasanya terjadi karena lemahnya pengawasan dan kesadaran dari masyarakat. Saat ini masyarakat diharapkan tidak hanya menyandarkan proses pelaksanaan sistem demokrasi hanya kepada penyelenggra. Karena sebaik apapun sebuah proses ada keterbatasan-keterbatasan yang bersifat teknis dapat muncul. Ihda berharap dengan tergugahnya kesadaran masyarakat maka akan lahir sebuah proses yang terus membaik. (van)

Share it:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *