Mereka, Hiperrealis di Alam yang Realis

Catatan IPPBMM VII IAIN Purwokerto

Oleh Oki Edi Purwoko

Dua pemain bulutangkis saling beradu posisi dengan menempatkan bola dari sisi ke sisi, masing-masing mencoba mengatur serangan sampai tiba – tiba satu pemain meloncat dan memberi smash kanan keras yang mengakibatkan shuttlecock menukik tajam. Lawan yang kaget spontan mengarahkan raketnya dengan gerakan seperti binatang buas yang menerkam mangsanya, kaki kanannya menekuk, tubuhnya membungkuk mencoba meraih bola yang jatuh tak jauh dari net. Dalam tempo sepersekian detik, yang ada di kepalanya hanya bola harus kembali melewati net. Namun sulit, ketidakmungkinan sudut, waktu yang teramat cepat memaksa bola agar menyerah pada keperkasaan jaring, bola kembali jatuh di daerahnya sendiri, peluit ,melengking, penonton bersorak..Bum!.. permainan pun berakhir.

Televisi bisa saja menjadi illusion of reality atau juga menimbulkan intimacy, tetapi sangat berbeda rasanya menonton pertandingan di depan TV dan menyaksikannya sendiri dari pinggir lapangan. Dalam Sepak bola misalnya, suara ngosh.. para pemain ketika berlari kencang mengejar bola, suara khas gesekan baju seragam antar pemain, gelinding  bola yang menyentuh rumput basah, langit kemerahan sewaktu sore, dan udara yang makin dingin ketika hari beranjak petang.

Dalam menonton langsung suatu pertandingan, setiap detail gerak tubuh pemain memiliki daya tarik tersendiri. Ada illusion of reality ketika menonton reality. Seseorang yang kita dukung sejenak menjadi hero, dan yang lain menjadi tidak relevan. Ada kalanya dalam suatu pertandingan mereka terlihat lebih “megah” dari mereka yang sebenarnya. Ada suatu keindahan manusia dalam gerak, suatu keindahan yang berbeda dari deskripsi indah antara laki laki dan perempuan, suatu keindahan yang muncul dari moment, antara asa dan keputusasaan, suatu keindahan yang saya deskripsi sebagai keindahan heroik.

Pun, walau tingkatnya masih mahasiswa, IPPBMM kali ini memberi sosok – sosok heroik yang memberi inspirasi melihat mereka bertanding. Sebut saja Yosi Dewantari dari Cabang tenis meja. Mahasiswi Semester 8 Fakultas FEBI, IAIN Metro Lampung ini namanya telah bergaung di kancah Tenis Meja baik nasional maupun internasional, Prestasi terakhir dia raih adalah mendapatkan emas pada Pekan Ilmiah Olahraga Seni dan Riset (Pioner) VIII di UIN Ar-Raniry Aceh tahun 2017 lalu.

Ada Amalia Utami, tosser sekaligus kapten team volley putri UIN Sunan Gunung Djati Bandung yang digadang – gadang membawa emas pada IPBBMM kali ini. Mahasiswi 20 tahun yang merupakan anak pertama dari dua bersaudara ini bersama teamnya telah mengantongi beberapa prestasi yang bergensi, misalnya menjadi tiga terbaik di  pagelaran ITB Cup di tahun 2017 lalu.

Dari cabang Debat bahasa Arab ada Muhammad Zulkifli dan Rahmat Hidayat dari UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta. Mahasiswa semester empat FUAH ini telah telah malang melintang dalam ajang debat tingkat nasional dan internasional. Misalnya pada ajang debat Bahasa Arab di Malaysia tahun ini.

Menonton mereka yang bertanding di IPPBMM IAIN Purwokerto membawa kembali sosok heroik tersebut. Moment, menciptakan mereka dari yang biasa menjadi sosok yang layak dikagumi.  Ada transendensi, keberadaan sosok fisik-al yang melampaui imaji normal, suatu hiperrealitas dalam alam yang realistis.  Agaknya, harapan dan mimpi membuat mereka terangkat tingkat lebih tinggi. Selamat Bertanding !

Print Friendly, PDF & Email

Leave a Reply

Your email address will not be published.