Menguatkan Moderasi Beragama dalam Spirit Budaya Penginyongan

IAIN Purwokerto menggelar Sidang Senat Terbuka dalam rangka Penerimaan Mahasiswa Baru dan Studium General Semester Gasal Tahun Akademik 2019/2020 pada Kamis, (22/08/2019) di Auditorium Utama. Sidang Terbuka ini menyatakan secara resmi diterimanya 2.632 mahasiswa baru.

Sidang dibuka oleh Ketua Senat IAIN Purwokerto Dr. Abdul Wachid Bambang Suharto. Pada kesempatan itu Ketua Senat menjelaskan tugas dan fungsi Senat dan memperkenalkan satu persatu anggota Senat kepada mahasiswa baru.

Tema yang diangkat pada sidang ini adalah ‘Menguatkan Moderasi Beragama dalam Spirit Budaya Penginyongan’.

Dalam arahannya Rektor Dr. Moh. Roqib memberi contoh sosok Ulama K.H. Maimun Zubair, “kita baru terasa dan sadar, jika orang yang telah tiada sangat berarti bagi kita, “ungkapnya.

Untuk itu kepada para mahasiswa baru, Rektor berpesan bahwa manusia dibentuk sesuai dengan kebiasaannya, jika kebiasaannya positif maka hasilnya positif, begitupun sebaliknya, oleh karena itu tradisikan dan biasakan budaya positif.

“Man Jadda Wajada, siapa yang bersungguh-sungguh pasti akan berhasil, “pesannya.

Kesungguhan disini menurut Rektor stressingnya adalah pemikiran agar menjadi mujtahid. “Menulislah, taklukan dunia melalui buku, “ujarnya.

Acara kemudian dilanjutkan dengan Studium General (kuliah umum) yang disampaikan oleh Ruchman Basori MA, Kasubdit Sarana Prasarana dan Kemahasiswaan Dit. PTKI Ditjen Pendidikan Islam.

Dalam orasinya Ruchman mengatakan bahwa tema pada kali ini sebenarnya sudah biasa dibahas namun demikian tetap menarik untuk dikaji karena berkaitan dengan keislaman dan keindonesiaan.

Ruchman mengawali dengan menggambarkan permasalahan yang terjadi di Indonesia seperti disparitas kaya miskin dan bencana alam. “Hidup memang bermasalah, kebanyakan masalah memang masalah, tidak punya masalah juga masalah, ayo segera pecahkan masalah, “pintanya.

Mengutip penelitian McKinsey, Ruchman optimis pada tahun 2030 Indonesia akan menjadi negara dengan ekonomi terbesar ketujuh di dunia, apalagi didukung dengan bonus demografi yakni jumlah SDM usia produktif yang melimpah.

Secara sosial didukung dengan masyarakat yang hidup rukun meski berbeda agama dan budaya. Indonesia juga ditopang dengan infrastruktur sosial yang kuat dalam bentuk ormas keagamaan seperti NU, Muhammadiyah, Al Wasliyah, Mathlaul Anwar dan lain-lain.

“Namun tantangan tetap ada, jauhi narkoba dan radikalisme, “tegasnya di hadapan mahasiswa baru

Radikalisme adalah paham yang berusaha melakukan perubahan secara mendasar dibidang hukum, politik, sistem sosial dan sistem budaya.

Usai memaparkan bahaya ideologi sekuler dan radikalisme di Indonesia melalui berbagai penelitian. Ruchman menghimbau agar jangan menjadi pribadi yang terbelah, tapi menjadi pribadi dengan visi keislaman dan keindonesiaan dalam satu tarikan nafas.

Spirit budaya penginyongan bisa berperan sebagai agen moderasi beragama, sulit rasanya kalau ada ‘wong penginyongan’ menjadi radikal atau tidak moderat.

“Apalagi ada tokoh bangsa seperti Jenderal Soedirman, ada pusat tarekat yang mengajarkan Islam yang damai dan melahirkan budayawan K.H. Ahmad Tohari, “tutupnya.