Lirik Tondi Tondiku

sisca


Lirik Tondi Tondiku

**Lirik Tondi Tondiku**
**Paragraf Pembuka 1:**
Di tanah air yang kaya budaya, musik senantiasa memainkan peranan penting dalam kehidupan masyarakat. Salah satu lagu daerah yang begitu dicintai dan populer di kalangan masyarakat Indonesia adalah “Tondi Tondiku”. Lagu ini berasal dari daerah Tapanuli Utara, Sumatera Utara, dan memiliki makna yang mendalam.
**Paragraf Pembuka 2:**
Lagu “Tondi Tondiku” diciptakan oleh seorang seniman bernama Sondang Simarmata pada tahun 1952. Lagu ini terinspirasi dari pengalaman pribadi sang pencipta ketika ditinggal pergi oleh orang yang dicintainya. Melalui liriknya yang puitis, Sondang mengekspresikan rasa sedih dan rindu yang mendalam.
**Paragraf Transisi:**
Sebelum mengulas lirik dari lagu “Tondi Tondiku”, penting untuk memahami konteks budaya dan sejarah di baliknya. Lagu ini merupakan representasi dari tradisi musik Batak Toba yang memiliki ciri khas penggunaan alat musik gondang. Selain itu, liriknya juga sarat dengan nilai-nilai budaya Batak, seperti ikatan kekeluargaan dan cinta tanah air.

Lirik Tondi Tondiku

Berikut adalah 10 poin penting tentang lirik “Tondi Tondiku”:

  • Cinta tanah air
  • Ikatan kekeluargaan
  • Kesedihan mendalam
  • Rasa rindu
  • Pengaruh budaya Batak
  • Penggunaan alat musik gondang
  • Ciptaan Sondang Simarmata
  • Tahun 1952
  • Makna mendalam
  • Terinspirasi dari pengalaman pribadi

Kesepuluh poin tersebut merangkum nilai-nilai budaya, sejarah, dan makna yang terkandung dalam lirik “Tondi Tondiku”. Lagu ini tidak hanya sekadar hiburan, tetapi juga menjadi simbol identitas dan kebanggaan masyarakat Batak Toba.

Cinta Tanah Air

Nilai cinta tanah air sangat kental dalam lirik “Tondi Tondiku”. Hal ini tercermin pada beberapa poin berikut:

  • “Di tanah pusaka”

    Frasa ini menunjukkan rasa memiliki dan kebanggaan terhadap tanah air. Tanah pusaka merujuk pada tanah leluhur yang diwariskan turun-temurun dan memiliki nilai sejarah dan budaya yang tinggi.

  • “Harmoni alam dan budaya”

    Lirik lagu ini menggambarkan keindahan alam dan budaya daerah Tapanuli Utara. Hal ini menunjukkan kecintaan masyarakat terhadap tanah air mereka, yang kaya akan sumber daya alam dan tradisi budaya yang unik.

  • “Gotong royong dan persatuan”

    Nilai-nilai gotong royong dan persatuan tercermin dalam lirik “satu hati, satu suara”. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat Tapanuli Utara menjunjung tinggi semangat kebersamaan dan saling membantu untuk membangun daerahnya.

  • “Menjaga kelestarian budaya”

    Lirik lagu ini juga mengandung pesan untuk menjaga kelestarian budaya Batak Toba. Hal ini terlihat pada frasa “budaya takkan lekang”. Masyarakat Tapanuli Utara menyadari pentingnya melestarikan tradisi dan budaya leluhur sebagai bagian dari identitas mereka.

Dengan demikian, lirik “Tondi Tondiku” tidak hanya mengungkapkan perasaan rindu dan sedih, tetapi juga merefleksikan kecintaan yang mendalam terhadap tanah air Tapanuli Utara. Lagu ini menjadi pengingat akan pentingnya menjaga warisan budaya dan membangun daerah bersama-sama.

Ikatan Kekeluargaan

Lirik “Tondi Tondiku” juga sarat dengan nilai-nilai ikatan kekeluargaan yang kuat dalam masyarakat Batak Toba. Hal ini terlihat pada beberapa penggalan lirik berikut:

“Horas, horas, horas ma di au”
Sapaan “horas” yang diulang tiga kali menunjukkan rasa hormat dan kasih sayang terhadap keluarga. Sapaan ini biasanya digunakan untuk menyapa anggota keluarga yang lebih tua atau dihormati.

“Di hata do hita marsada”
Frasa ini berarti “di rumah kita semua bersaudara”. Hal ini menunjukkan bahwa keluarga adalah tempat di mana setiap anggota saling menyayangi dan mendukung, tanpa memandang perbedaan.

“Anakboru, anak ni boru”
Lirik ini menyebutkan dua istilah kekerabatan dalam masyarakat Batak, yaitu “anakboru” (anak laki-laki) dan “anak ni boru” (anak perempuan). Hal ini menunjukkan bahwa ikatan kekeluargaan tidak hanya terbatas pada hubungan darah langsung, tetapi juga meluas ke keluarga besar.

“Di uhum ni roha ma di au”
Frasa ini berarti “diikat oleh ikatan hati”. Hal ini menunjukkan bahwa ikatan kekeluargaan dalam masyarakat Batak Toba tidak hanya didasarkan pada hubungan darah atau hukum, tetapi juga pada rasa cinta dan kasih sayang yang mendalam.

Nilai-nilai kekeluargaan yang kuat ini menjadi landasan kehidupan masyarakat Batak Toba. Keluarga merupakan tempat di mana setiap anggota merasa dicintai, dihormati, dan didukung. Ikatan kekeluargaan ini juga menjadi kekuatan yang menyatukan masyarakat Batak Toba dan membentuk identitas budaya mereka.

Kesedihan Mendalam

Lirik “Tondi Tondiku” juga mengekspresikan perasaan sedih dan rindu yang mendalam, yang dialami oleh seseorang yang ditinggalkan oleh orang yang dicintainya. Kesedihan ini terlihat pada beberapa penggalan lirik berikut:

  • “Tondiku ma ro”
    Frasa ini berarti “jiwaku telah pergi”. Hal ini menunjukkan perasaan kehilangan yang sangat dalam, seolah-olah sebagian dari diri telah pergi bersama orang yang dicintai.
  • “Laos do ahu di au”
    Frasa ini berarti “aku merasa kesepian”. Hal ini menunjukkan perasaan hampa dan kesendirian yang dirasakan oleh seseorang yang ditinggalkan.
  • “Hita salelengna”
    Frasa ini berarti “kita selamanya”. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun orang yang dicintai telah pergi, kenangan dan kasih sayang terhadapnya akan tetap hidup selamanya.
  • “Di uhum ni roha ma di au”
    Frasa ini berarti “diikat oleh ikatan hati”. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun secara fisik terpisah, ikatan cinta dan kasih sayang antara dua insan tidak akan pernah bisa diputuskan.
Baca Juga :  Lirik Lagu Kenangan

Kesedihan mendalam yang tertuang dalam lirik “Tondi Tondiku” menyentuh hati banyak orang yang pernah mengalami kehilangan. Lagu ini menjadi pengingat bahwa meskipun kita kehilangan orang yang kita cintai, kenangan dan kasih sayang mereka akan selalu bersama kita.

Rasa Rindu

Lirik “Tondi Tondiku” juga mengungkapkan perasaan rindu yang mendalam terhadap seseorang yang telah pergi. Rasa rindu ini terlihat pada beberapa penggalan lirik berikut:

“Di au pe dos ahu di au”
Frasa ini berarti “aku selalu merindukanmu”. Hal ini menunjukkan perasaan kangen yang terus-menerus terhadap seseorang yang dicintai.

“Laos do ahu di au”
Frasa ini berarti “aku merasa kesepian”. Hal ini menunjukkan perasaan hampa dan kesendirian yang dirasakan oleh seseorang yang ditinggalkan.

“Dang adong ahu di au”
Frasa ini berarti “aku merasa tidak berdaya”. Hal ini menunjukkan perasaan lemah dan tidak berdaya yang dialami oleh seseorang yang merindukan orang yang dicintainya.

“Di uhum ni roha ma di au”
Frasa ini berarti “diikat oleh ikatan hati”. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun secara fisik terpisah, ikatan cinta dan kasih sayang antara dua insan tidak akan pernah bisa diputuskan.

Rasa rindu yang tertuang dalam lirik “Tondi Tondiku” sangat menyentuh hati. Lagu ini menjadi pengingat bahwa meskipun kita berpisah dengan orang yang kita cintai, kenangan dan kasih sayang mereka akan selalu bersama kita.

Pengaruh Budaya Batak

Lirik “Tondi Tondiku” sangat kental dengan pengaruh budaya Batak Toba. Hal ini terlihat pada beberapa poin berikut:

  • Penggunaan bahasa Batak
    Seluruh lirik “Tondi Tondiku” menggunakan bahasa Batak Toba. Hal ini menunjukkan bahwa lagu ini diciptakan dalam konteks budaya Batak dan ditujukan untuk masyarakat Batak.
  • Nilai-nilai kekeluargaan
    Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, lirik “Tondi Tondiku” mengandung nilai-nilai kekeluargaan yang kuat. Hal ini sesuai dengan nilai-nilai budaya Batak yang menjunjung tinggi ikatan kekeluargaan dan gotong royong.
  • Penggunaan alat musik gondang
    Lagu “Tondi Tondiku” biasanya diiringi dengan alat musik gondang, yang merupakan alat musik tradisional Batak. Hal ini menunjukkan bahwa lagu ini merupakan bagian dari kesenian tradisional Batak.
  • Tema kesedihan dan rindu
    Tema kesedihan dan rindu yang diangkat dalam lirik “Tondi Tondiku” juga sesuai dengan tradisi budaya Batak. Masyarakat Batak memiliki tradisi meratap atau “mangokkal holi” saat ditinggalkan oleh orang yang dicintai.

Pengaruh budaya Batak dalam lirik “Tondi Tondiku” menjadikan lagu ini sebagai representasi identitas budaya masyarakat Batak Toba. Lagu ini tidak hanya menghibur, tetapi juga menjadi sarana untuk melestarikan nilai-nilai dan tradisi budaya Batak.

Penggunaan Alat Musik Gondang

Penggunaan alat musik gondang dalam lagu “Tondi Tondiku” memiliki beberapa makna dan fungsi, antara lain:

  • Pengiring irama dan melodi
    Gondang berfungsi sebagai pengiring irama dan melodi lagu “Tondi Tondiku”. Irama gondang yang khas menciptakan suasana yang sendu dan menyayat hati, sesuai dengan tema kesedihan dan rindu dalam lirik lagu.
  • Instrumen ritual
    Gondang juga merupakan instrumen ritual yang digunakan dalam berbagai upacara adat Batak, termasuk upacara kematian. Penggunaan gondang dalam lagu “Tondi Tondiku” memberikan kesan sakral dan mengharukan.
  • Simbol budaya Batak
    Gondang merupakan alat musik tradisional yang sangat identik dengan budaya Batak. Penggunaan gondang dalam lagu “Tondi Tondiku” menunjukkan bahwa lagu ini merupakan bagian dari kesenian tradisional Batak dan merepresentasikan identitas budaya masyarakat Batak.
  • Penghubung dengan leluhur
    Dalam kepercayaan masyarakat Batak, gondang dipercaya sebagai penghubung dengan leluhur. Irama gondang yang bergema dipercaya dapat mengantarkan doa dan harapan kepada leluhur yang telah meninggal.

Dengan demikian, penggunaan alat musik gondang dalam lagu “Tondi Tondiku” tidak hanya berfungsi sebagai pengiring musikal, tetapi juga memiliki makna budaya dan spiritual yang mendalam bagi masyarakat Batak.

Ciptaan Sondang Simarmata

Lagu “Tondi Tondiku” diciptakan oleh seorang seniman Batak Toba bernama Sondang Simarmata pada tahun 1952. Sondang Simarmata lahir di Tarutung, Sumatera Utara, pada tanggal 15 Oktober 1920. Ia dikenal sebagai seorang pencipta lagu, penyanyi, dan pemain gitar yang berbakat.

Baca Juga :  Lirik Lagu Sang Dewi - Lyodra

Menurut cerita yang beredar, Sondang Simarmata menciptakan lagu “Tondi Tondiku” setelah ditinggal pergi oleh kekasihnya. Pengalaman pribadi inilah yang menjadi inspirasi bagi Sondang untuk menulis lirik lagu yang begitu menyentuh dan mendalam.

Lagu “Tondi Tondiku” pertama kali diperkenalkan kepada publik pada tahun 1953 melalui siaran Radio Republik Indonesia (RRI) Medan. Lagu ini langsung mendapat sambutan yang luar biasa dari masyarakat Batak dan dengan cepat menjadi populer di seluruh Indonesia.

Hingga saat ini, lagu “Tondi Tondiku” masih terus dikenang dan dinyanyikan oleh masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat Batak Toba. Lagu ini telah menjadi bagian dari identitas budaya Batak dan dianggap sebagai salah satu karya seni musik terbaik yang pernah diciptakan oleh Sondang Simarmata.

Tahun 1952

Tahun 1952 merupakan tahun yang penting dalam sejarah lagu “Tondi Tondiku”, karena pada tahun inilah lagu tersebut diciptakan oleh Sondang Simarmata. Ada beberapa alasan mengapa tahun 1952 menjadi penting bagi lagu ini:

  • Latar belakang historis
    Tahun 1952 merupakan masa pergolakan politik dan sosial di Indonesia. Indonesia baru saja merdeka pada tahun 1945 dan masih dalam proses membangun identitas nasional. Dalam konteks tersebut, lagu “Tondi Tondiku” menjadi representasi kerinduan masyarakat Batak akan tanah air dan kebudayaan mereka.
  • Pengaruh budaya
    Tahun 1952 juga merupakan periode kebangkitan kesenian dan budaya di Indonesia. Muncul banyak seniman dan karya seni baru, termasuk lagu “Tondi Tondiku”. Lagu ini menjadi bagian dari gelombang kebudayaan baru yang mencerminkan semangat nasionalisme dan identitas budaya yang kuat.
  • Kepopuleran lagu
    Sejak pertama kali diperkenalkan pada tahun 1953, lagu “Tondi Tondiku” langsung mendapat sambutan yang luar biasa dari masyarakat. Lagu ini dengan cepat menjadi populer di seluruh Indonesia dan bahkan hingga ke mancanegara. Kepopuleran lagu ini menunjukkan bahwa lagu “Tondi Tondiku” berhasil menyentuh hati banyak orang.
  • Warisan budaya
    Hingga saat ini, lagu “Tondi Tondiku” masih terus dikenang dan dinyanyikan oleh masyarakat Indonesia. Lagu ini telah menjadi bagian dari warisan budaya Batak dan Indonesia secara umum. Lagu ini menjadi pengingat akan semangat nasionalisme, cinta tanah air, dan nilai-nilai budaya yang luhur.

Dengan demikian, tahun 1952 merupakan tahun yang sangat penting bagi lagu “Tondi Tondiku”. Pada tahun inilah lagu tersebut diciptakan, diperkenalkan, dan menjadi populer. Lagu ini telah menjadi bagian dari identitas budaya Batak dan Indonesia, serta terus dikenang dan dinikmati hingga saat ini.

Makna Mendalam

Lirik lagu “Tondi Tondiku” memiliki makna yang sangat mendalam, baik secara pribadi maupun secara budaya. Berikut adalah beberapa makna mendalam yang terkandung dalam lirik lagu tersebut:

Kesedihan dan kerinduan
Lirik lagu “Tondi Tondiku” mengungkapkan perasaan sedih dan rindu yang mendalam dari seseorang yang kehilangan orang yang dicintainya. Kesedihan dan kerinduan ini tercermin dalam frasa-frasa seperti “tondiku ma ro” (jiwaku telah pergi) dan “laos do ahu di au” (aku merasa kesepian).

Cinta tanah air
Selain mengungkapkan kesedihan dan kerinduan, lirik lagu “Tondi Tondiku” juga mengandung pesan cinta tanah air. Hal ini tercermin dalam frasa “di tanah pusaka” yang menunjukkan rasa memiliki dan kebanggaan terhadap tanah kelahiran.

Nilai-nilai kekeluargaan
Lirik lagu “Tondi Tondiku” juga sarat dengan nilai-nilai kekeluargaan yang kuat. Hal ini terlihat pada frasa “di hata do hita marsada” (di rumah kita semua bersaudara) dan “di uhum ni roha ma di au” (diikat oleh ikatan hati). Nilai-nilai kekeluargaan ini menjadi landasan kehidupan masyarakat Batak Toba.

Nilai-nilai budaya
Secara keseluruhan, lirik lagu “Tondi Tondiku” merupakan representasi nilai-nilai budaya Batak Toba. Lagu ini mengungkapkan rasa cinta tanah air, ikatan kekeluargaan yang kuat, dan kesedihan yang mendalam atas kehilangan orang yang dicintai. Nilai-nilai budaya ini menjadi bagian dari identitas masyarakat Batak Toba dan terus diwariskan dari generasi ke generasi.

Dengan demikian, makna mendalam dari lirik lagu “Tondi Tondiku” tidak hanya bersifat pribadi, tetapi juga memiliki nilai-nilai budaya dan sosial yang kuat. Lagu ini menjadi pengingat akan pentingnya cinta tanah air, ikatan kekeluargaan, dan pelestarian budaya.

Terinspirasi dari Pengalaman Pribadi

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, lagu “Tondi Tondiku” diciptakan oleh Sondang Simarmata setelah ditinggal pergi oleh kekasihnya. Pengalaman pribadi inilah yang menjadi inspirasi utama bagi Sondang untuk menulis lirik lagu yang begitu menyentuh dan mendalam.

Dalam lirik lagu tersebut, Sondang mengungkapkan perasaan sedih dan rindunya yang mendalam. Frasa-frasa seperti “tondiku ma ro” (jiwaku telah pergi) dan “laos do ahu di au” (aku merasa kesepian) menggambarkan kesedihan yang dirasakan oleh seseorang yang kehilangan orang yang dicintainya.

Baca Juga :  Khoirol Bariyyah Lirik

Pengalaman pribadi Sondang juga tercermin dalam frasa “di uhum ni roha ma di au” (diikat oleh ikatan hati). Frasa ini menunjukkan bahwa meskipun secara fisik terpisah, ikatan cinta dan kasih sayang antara dua insan tidak akan pernah bisa diputuskan.

Pengalaman pribadi Sondang Simarmata membuat lagu “Tondi Tondiku” menjadi sangat otentik dan menyentuh hati. Lirik lagu tersebut mampu membangkitkan emosi dan共鳴 dari siapa saja yang pernah mengalami kehilangan atau perpisahan.

Dengan demikian, pengalaman pribadi Sondang Simarmata menjadi sumber inspirasi utama bagi penciptaan lagu “Tondi Tondiku”. Pengalaman yang mendalam inilah yang membuat lagu ini begitu menyentuh dan terus dikenang hingga saat ini.

FAQ

Berikut adalah beberapa pertanyaan umum beserta jawabannya terkait “Tondi Tondiku”:

Pertanyaan 1: Kapan lagu “Tondi Tondiku” diciptakan?

Jawaban: Lagu “Tondi Tondiku” diciptakan pada tahun 1952 oleh Sondang Simarmata.

Pertanyaan 2: Siapa pencipta lagu “Tondi Tondiku”?

Jawaban: Pencipta lagu “Tondi Tondiku” adalah Sondang Simarmata.

Pertanyaan 3: Apa makna dari lirik lagu “Tondi Tondiku”?

Jawaban: Lirik lagu “Tondi Tondiku” mengungkapkan perasaan sedih dan rindu yang mendalam, cinta tanah air, nilai-nilai kekeluargaan, dan nilai-nilai budaya Batak Toba.

Pertanyaan 4: Apa yang menginspirasi penciptaan lagu “Tondi Tondiku”?

Jawaban: Lagu “Tondi Tondiku” terinspirasi dari pengalaman pribadi Sondang Simarmata yang ditinggal pergi oleh kekasihnya.

Pertanyaan 5: Mengapa lagu “Tondi Tondiku” begitu populer?

Jawaban: Lagu “Tondi Tondiku” begitu populer karena liriknya yang menyentuh hati, melodinya yang indah, dan karena lagu ini mewakili nilai-nilai budaya Batak Toba.

Pertanyaan 6: Di mana lagu “Tondi Tondiku” pertama kali diperkenalkan?

Jawaban: Lagu “Tondi Tondiku” pertama kali diperkenalkan melalui siaran Radio Republik Indonesia (RRI) Medan pada tahun 1953.

Demikian beberapa pertanyaan umum beserta jawabannya terkait lagu “Tondi Tondiku”. Semoga informasi ini bermanfaat.

Selain mengetahui informasi dasar dan makna dari lagu “Tondi Tondiku”, berikut adalah beberapa tips yang dapat membantu Anda lebih memahami dan mengapresiasi lagu ini:

Tips

Selain mengetahui informasi dasar dan makna dari lagu “Tondi Tondiku”, berikut adalah beberapa tips yang dapat membantu Anda lebih memahami dan mengapresiasi lagu ini:

1. Dengarkanlah lagu “Tondi Tondiku” secara berulang-ulang
Cobalah dengarkan lagu “Tondi Tondiku” secara berulang-ulang. Dengan mendengarkan secara berulang, Anda akan lebih mudah menangkap makna dan keindahan dari lirik dan melodi lagu ini.

2. Baca terjemahan lirik lagu “Tondi Tondiku”
Jika Anda tidak mengerti bahasa Batak, disarankan untuk membaca terjemahan lirik lagu “Tondi Tondiku”. Dengan membaca terjemahannya, Anda dapat memahami makna dari setiap bait lagu dan menghayati pesan yang ingin disampaikan.

3. Tonton video klip atau live performance lagu “Tondi Tondiku”
Menonton video klip atau live performance lagu “Tondi Tondiku” dapat membantu Anda mendapatkan gambaran visual dan emosional dari lagu ini. Anda dapat melihat bagaimana lagu ini dibawakan dan bagaimana lagu ini memengaruhi penonton.

4. Cari tahu lebih banyak tentang budaya Batak Toba
Lagu “Tondi Tondiku” merupakan representasi dari budaya Batak Toba. Untuk lebih memahami lagu ini, disarankan untuk mencari tahu lebih banyak tentang budaya Batak Toba, seperti nilai-nilai, tradisi, dan sejarahnya.

Dengan mengikuti tips-tips ini, Anda diharapkan dapat lebih memahami dan mengapresiasi lagu “Tondi Tondiku” sebagai sebuah karya seni yang memiliki makna mendalam.

Selain memahami dan mengapresiasi lagu “Tondi Tondiku”, Anda juga dapat mempelajari dan menyanyikan lagu ini sebagai bentuk pelestarian budaya Batak Toba.

Kesimpulan

Lirik lagu “Tondi Tondiku” merupakan sebuah karya seni yang memiliki makna mendalam dan nilai-nilai budaya yang kuat. Lagu ini mengungkapkan perasaan sedih dan rindu yang mendalam, cinta tanah air, nilai-nilai kekeluargaan, dan nilai-nilai budaya Batak Toba.

Lagu “Tondi Tondiku” diciptakan oleh Sondang Simarmata pada tahun 1952, terinspirasi dari pengalaman pribadinya. Lagu ini pertama kali diperkenalkan melalui siaran Radio Republik Indonesia (RRI) Medan pada tahun 1953 dan sejak saat itu menjadi sangat populer di seluruh Indonesia.

Kepopuleran lagu “Tondi Tondiku” tidak hanya karena liriknya yang menyentuh hati dan melodinya yang indah, tetapi juga karena lagu ini mewakili identitas budaya Batak Toba. Lagu ini menjadi pengingat akan pentingnya cinta tanah air, ikatan kekeluargaan, dan pelestarian budaya.

Sebagai sebuah karya seni yang berharga, lagu “Tondi Tondiku” perlu terus dilestarikan dan diwariskan kepada generasi mendatang. Lagu ini tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga menjadi sarana untuk memperkenalkan dan melestarikan budaya Batak Toba.

Semoga kita semua dapat terus mengapresiasi dan melestarikan lagu “Tondi Tondiku” sebagai bagian dari kekayaan budaya Indonesia.


Rekomendasi Herbal Alami:

Artikel Terkait

Bagikan:

sisca

Halo, Perkenalkan nama saya Sisca. Saya adalah salah satu penulis profesional yang suka berbagi ilmu. Dengan Artikel, saya bisa berbagi dengan teman - teman. Semoga semua artikel yang telah saya buat bisa bermanfaat. Pastikan Follow iainpurwokerto.ac.id ya.. Terimakasih..