Konsep Diferensiasi Area

sisca


Konsep Diferensiasi Area

Konsep diferensiasi area merupakan gagasan yang menjelaskan perbedaan karakteristik suatu wilayah dalam suatu kota. Perbedaan ini timbul karena adanya perbedaan dalam faktor-faktor seperti kepadatan penduduk, pemanfaatan lahan, tingkat perekonomian, dan kondisi sosial masyarakat.

Konsep diferensiasi area pertama kali dikemukakan oleh sosiolog Jerman, Ferdinand Tonnies, pada akhir abad ke-19. Tonnies membagi masyarakat menjadi dua tipe, yaitu masyarakat gemeinschaft (komunitas) dan masyarakat gesellschaft (asosiasi). Masyarakat gemeinschaft ditandai dengan ikatan sosial yang kuat dan hubungan yang erat antar individu, sedangkan masyarakat gesellschaft ditandai dengan ikatan sosial yang lemah dan hubungan yang impersonal.

Konsep diferensiasi area kemudian dikembangkan oleh sosiolog Amerika, Ernest W. Burgess, pada awal abad ke-20. Burgess membagi kota menjadi beberapa zona konsentris, yaitu:

Konsep Diferensiasi Area

Konsep diferensiasi area menjelaskan perbedaan karakteristik suatu wilayah dalam suatu kota. Berikut adalah 10 poin penting mengenai konsep diferensiasi area:

  • Perbedaan karakteristik wilayah
  • Kepadatan penduduk bervariasi
  • Pemanfaatan lahan berbeda
  • Tingkat perekonomian beragam
  • Kondisi sosial masyarakat bervariasi
  • Faktor geografis berpengaruh
  • Faktor historis berperan
  • Zona konsentris Burgess
  • Model sektor Hoyt
  • Teori inti-pinggiran Harris dan Ullman

Konsep diferensiasi area penting untuk memahami dinamika perkotaan dan perencanaan tata ruang kota.

Perbedaan Karakteristik Wilayah

Perbedaan karakteristik wilayah dalam suatu kota dapat mencakup berbagai aspek, antara lain:

  • Kepadatan penduduk

    Kepadatan penduduk bervariasi dari satu wilayah ke wilayah lain. Pusat kota biasanya memiliki kepadatan penduduk yang tinggi, sementara pinggiran kota memiliki kepadatan penduduk yang lebih rendah.

  • Pemanfaatan lahan

    Pemanfaatan lahan juga bervariasi antar wilayah. Pusat kota biasanya didominasi oleh penggunaan lahan komersial dan bisnis, sementara pinggiran kota didominasi oleh penggunaan lahan perumahan.

  • Tingkat perekonomian

    Tingkat perekonomian juga bervariasi antar wilayah. Pusat kota biasanya memiliki tingkat perekonomian yang tinggi, sementara pinggiran kota memiliki tingkat perekonomian yang lebih rendah.

  • Kondisi sosial masyarakat

    Kondisi sosial masyarakat juga bervariasi antar wilayah. Pusat kota biasanya memiliki tingkat pendidikan dan pendapatan yang lebih tinggi dibandingkan pinggiran kota.

Perbedaan karakteristik wilayah ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor, seperti faktor geografis, historis, sosial, dan ekonomi.

Kepadatan Penduduk Bervariasi

Kepadatan penduduk bervariasi dari satu wilayah ke wilayah lain dalam suatu kota. Pusat kota biasanya memiliki kepadatan penduduk yang tinggi, sementara pinggiran kota memiliki kepadatan penduduk yang lebih rendah. Perbedaan kepadatan penduduk ini disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain:

  • Faktor geografis

    Faktor geografis seperti ketersediaan lahan dan kondisi topografi dapat mempengaruhi kepadatan penduduk. Misalnya, daerah yang memiliki lahan terbatas atau topografi yang curam cenderung memiliki kepadatan penduduk yang lebih tinggi.

  • Faktor ekonomi

    Faktor ekonomi juga mempengaruhi kepadatan penduduk. Daerah yang memiliki lapangan kerja dan peluang ekonomi yang lebih baik cenderung menarik lebih banyak penduduk, sehingga meningkatkan kepadatan penduduk.

  • Faktor sosial

    Faktor sosial seperti preferensi tempat tinggal dan gaya hidup juga dapat mempengaruhi kepadatan penduduk. Misalnya, beberapa orang lebih memilih tinggal di daerah yang padat penduduknya karena alasan kenyamanan dan aksesibilitas.

  • Faktor historis

    Faktor historis juga dapat berperan dalam perbedaan kepadatan penduduk. Misalnya, daerah yang dulunya merupakan pusat perdagangan atau pemerintahan cenderung memiliki kepadatan penduduk yang lebih tinggi.

Kepadatan penduduk yang bervariasi dalam suatu kota dapat berdampak pada berbagai aspek kehidupan, seperti ketersediaan perumahan, transportasi, dan layanan publik.

Pemanfaatan Lahan Berbeda

Pemanfaatan lahan juga bervariasi antar wilayah dalam suatu kota. Pusat kota biasanya didominasi oleh penggunaan lahan komersial dan bisnis, sementara pinggiran kota didominasi oleh penggunaan lahan perumahan. Perbedaan pemanfaatan lahan ini disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain:

  • Faktor ekonomi

    Faktor ekonomi merupakan faktor utama yang mempengaruhi pemanfaatan lahan. Daerah yang memiliki aktivitas ekonomi tinggi, seperti pusat kota, cenderung didominasi oleh penggunaan lahan komersial dan bisnis. Sementara itu, daerah yang memiliki aktivitas ekonomi lebih rendah, seperti pinggiran kota, cenderung didominasi oleh penggunaan lahan perumahan.

  • Faktor geografis

    Faktor geografis juga mempengaruhi pemanfaatan lahan. Misalnya, daerah yang memiliki lahan terbatas atau topografi yang curam cenderung memiliki lebih sedikit lahan yang tersedia untuk pengembangan perumahan.

  • Faktor historis

    Faktor historis juga dapat berperan dalam pemanfaatan lahan. Misalnya, daerah yang dulunya merupakan pusat perdagangan atau pemerintahan cenderung memiliki lebih banyak bangunan komersial dan bisnis.

  • Faktor perencanaan tata ruang

    Faktor perencanaan tata ruang juga mempengaruhi pemanfaatan lahan. Pemerintah kota dapat menetapkan peraturan zonasi yang mengatur penggunaan lahan di suatu wilayah tertentu. Peraturan zonasi ini dapat membatasi atau mengarahkan pengembangan penggunaan lahan tertentu.

Baca Juga :  Ritmis Adalah

Pemanfaatan lahan yang berbeda dalam suatu kota dapat berdampak pada berbagai aspek kehidupan, seperti ketersediaan perumahan, transportasi, dan lingkungan.

Tingkat Perekonomian Beragam

Tingkat perekonomian juga bervariasi antar wilayah dalam suatu kota. Pusat kota biasanya memiliki tingkat perekonomian yang tinggi, sementara pinggiran kota memiliki tingkat perekonomian yang lebih rendah. Perbedaan tingkat perekonomian ini disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain:

  • Lokasi

    Lokasi merupakan faktor penting yang mempengaruhi tingkat perekonomian suatu wilayah. Daerah yang terletak di pusat kota atau dekat dengan pusat transportasi cenderung memiliki tingkat perekonomian yang lebih tinggi karena aksesibilitas yang lebih baik.

  • Jenis penggunaan lahan

    Jenis penggunaan lahan juga mempengaruhi tingkat perekonomian suatu wilayah. Daerah yang didominasi oleh penggunaan lahan komersial dan bisnis cenderung memiliki tingkat perekonomian yang lebih tinggi dibandingkan daerah yang didominasi oleh penggunaan lahan perumahan.

  • Ketersediaan tenaga kerja

    Ketersediaan tenaga kerja juga merupakan faktor penting yang mempengaruhi tingkat perekonomian suatu wilayah. Daerah yang memiliki ketersediaan tenaga kerja yang terampil dan berpendidikan cenderung memiliki tingkat perekonomian yang lebih tinggi.

  • Kebijakan pemerintah

    Kebijakan pemerintah juga dapat mempengaruhi tingkat perekonomian suatu wilayah. Pemerintah dapat memberikan insentif atau subsidi untuk menarik investasi dan pengembangan ekonomi di wilayah tertentu.

Tingkat perekonomian yang bervariasi dalam suatu kota dapat berdampak pada berbagai aspek kehidupan, seperti ketersediaan lapangan kerja, pendapatan masyarakat, dan kesejahteraan sosial.

Kondisi Sosial Masyarakat Bervariasi

Kondisi sosial masyarakat juga bervariasi antar wilayah dalam suatu kota. Pusat kota biasanya memiliki tingkat pendidikan dan pendapatan yang lebih tinggi dibandingkan pinggiran kota. Perbedaan kondisi sosial masyarakat ini disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain:

  • Tingkat perekonomian

    Tingkat perekonomian suatu wilayah dapat mempengaruhi kondisi sosial masyarakat. Daerah yang memiliki tingkat perekonomian tinggi cenderung menarik masyarakat dengan tingkat pendidikan dan pendapatan yang lebih tinggi.

  • Jenis penggunaan lahan

    Jenis penggunaan lahan juga mempengaruhi kondisi sosial masyarakat. Daerah yang didominasi oleh penggunaan lahan perumahan cenderung memiliki tingkat pendidikan dan pendapatan masyarakat yang lebih tinggi dibandingkan daerah yang didominasi oleh penggunaan lahan industri atau komersial.

  • Kebijakan pemerintah

    Kebijakan pemerintah juga dapat mempengaruhi kondisi sosial masyarakat. Pemerintah dapat menyediakan layanan pendidikan dan kesehatan yang lebih baik di wilayah tertentu, sehingga meningkatkan tingkat pendidikan dan kesehatan masyarakat.

  • Faktor historis

    Faktor historis juga dapat berperan dalam perbedaan kondisi sosial masyarakat. Misalnya, daerah yang dulunya merupakan kawasan elit atau daerah pemukiman bagi kelompok tertentu cenderung memiliki tingkat pendidikan dan pendapatan masyarakat yang lebih tinggi.

Kondisi sosial masyarakat yang bervariasi dalam suatu kota dapat berdampak pada berbagai aspek kehidupan, seperti akses terhadap pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan sosial.

Faktor Geografis Berpengaruh

Faktor geografis memegang peranan penting dalam membentuk diferensiasi area dalam suatu kota. Kondisi geografis yang berbeda dapat mempengaruhi perkembangan dan karakteristik suatu wilayah.

Salah satu faktor geografis yang berpengaruh adalah topografi. Daerah yang memiliki topografi datar dan landai cenderung lebih mudah dikembangkan dibandingkan daerah yang memiliki topografi berbukit-bukit atau curam. Daerah dengan topografi yang lebih mudah dikembangkan biasanya memiliki kepadatan penduduk yang lebih tinggi dan tingkat perekonomian yang lebih baik.

Faktor geografis lainnya yang berpengaruh adalah ketersediaan sumber daya alam. Daerah yang memiliki sumber daya alam yang melimpah, seperti air, mineral, atau lahan subur, cenderung lebih menarik bagi penduduk dan kegiatan ekonomi. Hal ini dapat menyebabkan terbentuknya wilayah-wilayah yang memiliki karakteristik ekonomi yang berbeda.

Selain itu, letak geografis juga dapat mempengaruhi diferensiasi area. Daerah yang terletak di dekat pusat kota atau jalur transportasi utama cenderung memiliki aksesibilitas yang lebih baik dan nilai lahan yang lebih tinggi. Hal ini dapat menarik kegiatan komersial dan bisnis, sehingga membentuk wilayah dengan karakteristik yang berbeda dari daerah yang lebih jauh dari pusat kota.

Faktor geografis merupakan salah satu faktor mendasar yang membentuk diferensiasi area dalam suatu kota. Perbedaan kondisi geografis dapat mempengaruhi perkembangan, karakteristik, dan dinamika suatu wilayah.

Faktor Historis Berperan

Faktor historis juga berperan penting dalam membentuk diferensiasi area dalam suatu kota. Peristiwa dan perkembangan sejarah dapat meninggalkan jejak yang bertahan lama pada karakteristik suatu wilayah.

Salah satu faktor historis yang berpengaruh adalah pola perkembangan kota. Kota-kota yang berkembang secara organik dari waktu ke waktu cenderung memiliki diferensiasi area yang lebih kompleks dibandingkan kota-kota yang dibangun secara terencana. Daerah-daerah yang lebih tua biasanya memiliki karakteristik yang berbeda dari daerah-daerah yang lebih baru, baik dalam hal penggunaan lahan, kepadatan penduduk, maupun kondisi sosial masyarakat.

Baca Juga :  Pendekatan Geografi: Sebuah Tinjauan Komprehensif

Faktor historis lainnya yang berpengaruh adalah peristiwa sejarah. Peristiwa-peristiwa seperti perang, bencana alam, atau migrasi besar-besaran dapat mengubah secara signifikan karakteristik suatu wilayah. Misalnya, daerah yang dulunya merupakan pusat perdagangan atau pemerintahan dapat mengalami kemunduran setelah terjadi perang atau bencana alam, sehingga berubah menjadi daerah dengan karakteristik yang berbeda.

Selain itu, kebijakan pemerintah di masa lalu juga dapat mempengaruhi diferensiasi area. Pemerintah kolonial, misalnya, sering kali menerapkan kebijakan yang menciptakan perbedaan dalam penggunaan lahan dan kondisi sosial masyarakat di berbagai wilayah kota. Kebijakan-kebijakan ini dapat meninggalkan warisan yang bertahan lama pada karakteristik suatu wilayah.

Faktor historis merupakan salah satu faktor yang membentuk keragaman karakteristik wilayah dalam suatu kota. Memahami sejarah suatu wilayah dapat membantu kita memahami perbedaan karakteristik yang ada saat ini.

Zona Konsentris Burgess

Zona konsentris Burgess adalah salah satu model diferensiasi area yang paling terkenal. Model ini pertama kali dikemukakan oleh sosiolog Amerika, Ernest W. Burgess, pada tahun 1920-an.

Menurut model zona konsentris Burgess, kota dapat dibagi menjadi beberapa zona konsentris yang mengelilingi pusat kota. Zona-zona tersebut antara lain:

  1. Zona I: Pusat Kota
    Merupakan pusat bisnis dan komersial kota, dengan kepadatan penduduk yang tinggi dan tingkat perekonomian yang tinggi.
  2. Zona II: Zona Transisi
    Merupakan daerah yang mengelilingi pusat kota, ditandai dengan kepadatan penduduk yang tinggi, perumahan kumuh, dan tingkat kejahatan yang tinggi.
  3. Zona III: Zona Perumahan Pekerja
    Merupakan daerah yang lebih jauh dari pusat kota, didominasi oleh perumahan kelas pekerja dengan kepadatan penduduk yang lebih rendah.
  4. Zona IV: Zona Perumahan Kelas Menengah
    Merupakan daerah yang lebih jauh lagi dari pusat kota, didominasi oleh perumahan kelas menengah dengan kepadatan penduduk yang lebih rendah dan lingkungan yang lebih baik.
  5. Zona V: Zona Pinggiran Kota
    Merupakan daerah terluar kota, didominasi oleh perumahan kelas atas dan penggunaan lahan campuran.

Model zona konsentris Burgess didasarkan pada asumsi bahwa pertumbuhan kota происходит secara radial dari pusat kota. Namun, model ini telah dikritik karena terlalu sederhana dan tidak dapat menjelaskan semua variasi yang ada dalam diferensiasi area kota.

Meskipun demikian, model zona konsentris Burgess tetap menjadi model penting dalam studi diferensiasi area karena memberikan kerangka kerja untuk memahami perbedaan karakteristik wilayah dalam suatu kota.

Selain model zona konsentris Burgess, terdapat beberapa model diferensiasi area lainnya, seperti model sektor Hoyt dan teori inti-pinggiran Harris dan Ullman. Model-model ini memberikan perspektif yang berbeda tentang bagaimana karakteristik wilayah bervariasi dalam suatu kota.

Model Sektor Hoyt

Model sektor Hoyt adalah salah satu model diferensiasi area yang memperluas model zona konsentris Burgess. Model ini dikemukakan oleh sosiolog Amerika, Homer Hoyt, pada tahun 1939.

Menurut model sektor Hoyt, kota dapat dibagi menjadi beberapa sektor yang memanjang dari pusat kota ke arah pinggiran kota. Sektor-sektor tersebut antara lain:

  1. Sektor I: Pusat Kota
    Merupakan pusat bisnis dan komersial kota, dengan kepadatan penduduk yang tinggi dan tingkat perekonomian yang tinggi.
  2. Sektor II: Sektor Industri Ringan
    Merupakan daerah yang mengelilingi pusat kota, ditandai dengan adanya industri ringan dan perumahan kelas pekerja.
  3. Sektor III: Sektor Industri Berat
    Merupakan daerah yang lebih jauh dari pusat kota, ditandai dengan adanya industri berat dan perumahan kelas bawah.
  4. Sektor IV: Sektor Perumahan Kelas Menengah
    Merupakan daerah yang lebih jauh lagi dari pusat kota, didominasi oleh perumahan kelas menengah dengan kepadatan penduduk yang lebih rendah dan lingkungan yang lebih baik.
  5. Sektor V: Sektor Pinggiran Kota
    Merupakan daerah terluar kota, didominasi oleh perumahan kelas atas dan penggunaan lahan campuran.

Model sektor Hoyt didasarkan pada asumsi bahwa pertumbuhan kota происходит secara sektoral dari pusat kota. Model ini lebih realistis dibandingkan model zona konsentris Burgess karena dapat menjelaskan variasi penggunaan lahan dan karakteristik sosial ekonomi yang terjadi di sepanjang jalur transportasi utama.

Model sektor Hoyt telah banyak digunakan untuk merencanakan dan mengelola pertumbuhan kota. Model ini membantu pembuat kebijakan memahami pola perkembangan kota dan mengantisipasi kebutuhan masa depan masyarakat.

Model zona konsentris Burgess dan model sektor Hoyt merupakan dua model diferensiasi area yang paling terkenal. Kedua model ini memberikan perspektif yang berbeda tentang bagaimana karakteristik wilayah bervariasi dalam suatu kota.

Baca Juga :  Anak Jokowi Yang Berprestasi dan Pintar

Teori Inti-Pinggiran Harris dan Ullman

Teori inti-pinggiran Harris dan Ullman adalah salah satu model diferensiasi area yang menekankan pada peran faktor ekonomi dalam membentuk karakteristik wilayah dalam suatu kota.

Menurut teori ini, kota dapat dibagi menjadi dua zona utama, yaitu:

  1. Zona Inti
    Merupakan pusat ekonomi dan bisnis kota, ditandai dengan kepadatan penduduk yang tinggi, aktivitas ekonomi yang tinggi, dan nilai lahan yang tinggi.
  2. Zona Pinggiran
    Merupakan daerah di luar zona inti, ditandai dengan kepadatan penduduk yang lebih rendah, aktivitas ekonomi yang lebih rendah, dan nilai lahan yang lebih rendah.

Teori inti-pinggiran Harris dan Ullman didasarkan pada asumsi bahwa aktivitas ekonomi cenderung terkonsentrasi di pusat kota karena adanya keuntungan aglomerasi, seperti aksesibilitas yang lebih baik, tenaga kerja yang terampil, dan infrastruktur yang lebih lengkap.

Teori ini juga menjelaskan bahwa zona pinggiran akan berkembang sebagai tempat tinggal bagi pekerja yang bekerja di zona inti. Seiring dengan pertumbuhan kota, zona pinggiran akan meluas dan karakteristiknya akan semakin beragam, tergantung pada jaraknya dari zona inti dan faktor-faktor lainnya seperti topografi dan kebijakan pemerintah.

Teori inti-pinggiran Harris dan Ullman telah banyak digunakan untuk memahami dinamika pertumbuhan kota dan perencanaan tata ruang kota. Teori ini membantu pembuat kebijakan memahami pola perkembangan kota dan mengantisipasi kebutuhan masa depan masyarakat.

FAQ

Berikut adalah beberapa pertanyaan yang sering diajukan tentang konsep diferensiasi area:

Question 1: Apa yang dimaksud dengan diferensiasi area?
Answer 1: Diferensiasi area adalah konsep yang menjelaskan perbedaan karakteristik suatu wilayah dalam suatu kota, seperti kepadatan penduduk, pemanfaatan lahan, tingkat perekonomian, dan kondisi sosial masyarakat.

Question 2: Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi diferensiasi area?
Answer 2: Faktor-faktor yang mempengaruhi diferensiasi area meliputi faktor geografis, historis, sosial, dan ekonomi.

Question 3: Apa saja model diferensiasi area yang terkenal?
Answer 3: Model diferensiasi area yang terkenal antara lain model zona konsentris Burgess, model sektor Hoyt, dan teori inti-pinggiran Harris dan Ullman.

Question 4: Apa manfaat memahami konsep diferensiasi area?
Answer 4: Memahami konsep diferensiasi area penting untuk memahami dinamika perkotaan dan perencanaan tata ruang kota.

Question 5: Bagaimana diferensiasi area dapat mempengaruhi kehidupan masyarakat?
Answer 5: Diferensiasi area dapat mempengaruhi kehidupan masyarakat dalam berbagai aspek, seperti akses terhadap perumahan, transportasi, pendidikan, dan kesehatan.

Question 6: Apa saja tantangan dalam mengelola diferensiasi area?
Answer 6: Tantangan dalam mengelola diferensiasi area meliputi kesenjangan sosial ekonomi, kemacetan lalu lintas, dan polusi lingkungan.

Question 7: Apa saja solusi yang dapat dilakukan untuk mengatasi tantangan dalam mengelola diferensiasi area?
Answer 7: Solusi untuk mengatasi tantangan dalam mengelola diferensiasi area meliputi pengembangan transportasi publik, pembangunan perumahan yang terjangkau, dan penegakan peraturan lingkungan.

Selain memahami konsep diferensiasi area, terdapat beberapa tips yang dapat dilakukan untuk mengelola perbedaan karakteristik wilayah dalam suatu kota. Tips-tips tersebut akan dibahas pada bagian selanjutnya.

Tips

Berikut adalah beberapa tips yang dapat dilakukan untuk mengelola perbedaan karakteristik wilayah dalam suatu kota:

Tip 1: Kembangkan transportasi publik yang efisien dan terjangkau. Transportasi publik yang baik dapat membantu mengurangi kemacetan lalu lintas dan polusi udara, serta meningkatkan aksesibilitas ke berbagai wilayah kota.

Tip 2: Bangun perumahan yang terjangkau. Perumahan yang terjangkau dapat membantu mengurangi kesenjangan sosial ekonomi dan menyediakan tempat tinggal yang layak bagi semua warga kota.

Tip 3: Tegakkan peraturan lingkungan yang ketat. Peraturan lingkungan yang ketat dapat membantu melindungi kesehatan masyarakat dan lingkungan dari polusi dan kerusakan.

Tip 4: Libatkan masyarakat dalam perencanaan tata ruang kota. Melibatkan masyarakat dalam perencanaan tata ruang kota dapat membantu memastikan bahwa kebutuhan dan aspirasi masyarakat terpenuhi.

Dengan menerapkan tips-tips tersebut, pemerintah dan masyarakat dapat bekerja sama untuk mengelola diferensiasi area secara efektif dan menciptakan kota yang lebih adil, berkelanjutan, dan sejahtera bagi semua penduduknya.

Kesimpulan

Konsep diferensiasi area menjelaskan bahwa karakteristik wilayah dalam suatu kota dapat sangat bervariasi. Perbedaan ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti faktor geografis, historis, sosial, dan ekonomi.

Memahami konsep diferensiasi area sangat penting untuk perencanaan tata ruang kota dan pengelolaan dinamika perkotaan. Dengan memahami perbedaan karakteristik wilayah, pemerintah dan masyarakat dapat bekerja sama untuk menciptakan kota yang lebih adil, berkelanjutan, dan sejahtera bagi semua penduduknya.

Dengan mengelola diferensiasi area secara bijak, kita dapat menciptakan kota yang lebih inklusif dan harmonis, di mana semua warga memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang dan menikmati kehidupan yang berkualitas.


Rekomendasi Herbal Alami:

Artikel Terkait

Bagikan:

sisca

Halo, Perkenalkan nama saya Sisca. Saya adalah salah satu penulis profesional yang suka berbagi ilmu. Dengan Artikel, saya bisa berbagi dengan teman - teman. Semoga semua artikel yang telah saya buat bisa bermanfaat. Pastikan Follow iainpurwokerto.ac.id ya.. Terimakasih..