Jajan Hari Raya Idul Fitri

sisca


Jajan Hari Raya Idul Fitri

Jajan hari raya Idul Fitri adalah makanan ringan yang biasa disajikan saat hari raya Idul Fitri tiba. Jajan ini biasanya dibuat dari bahan-bahan sederhana, seperti tepung beras, gula, dan santan.

Jajan hari raya Idul Fitri memiliki banyak manfaat. Selain menjadi makanan yang lezat, jajan ini juga dapat mempererat tali silaturahmi antar kerabat dan teman. Selain itu, jajan ini juga dapat menjadi sumber pendapatan tambahan bagi masyarakat.

Sejarah jajan hari raya Idul Fitri berawal dari zaman dahulu kala, ketika masyarakat masih hidup dengan cara berburu dan meramu. Pada saat itu, jajan ini dibuat dari bahan-bahan yang tersedia di alam, seperti ubi, pisang, dan madu.

Jajan Hari Raya Idul Fitri

Jajan hari raya Idul Fitri merupakan salah satu aspek penting dalam perayaan Idul Fitri. Jajan ini memiliki berbagai macam jenis, rasa, dan makna. Berikut adalah 10 aspek penting jajan hari raya Idul Fitri:

  • Jenis
  • Bahan
  • Rasa
  • Makna
  • Tradisi
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Sosial
  • Kesehatan
  • Pariwisata

Setiap aspek memiliki keterkaitan yang erat dengan aspek lainnya. Misalnya, jenis jajan hari raya Idul Fitri dipengaruhi oleh bahan yang digunakan, tradisi, dan budaya masyarakat setempat. Rasa jajan juga dapat mencerminkan makna dan simbolisme yang terkandung di dalamnya. Selain itu, jajan hari raya Idul Fitri juga memiliki dampak ekonomi, sosial, dan kesehatan bagi masyarakat.

Jenis

Jenis jajan hari raya Idul Fitri sangatlah beragam, mulai dari kue kering, kue basah, hingga minuman. Setiap jenis jajan memiliki ciri khas dan cita rasa yang berbeda-beda.

  • Kue Kering

    Kue kering merupakan jenis jajan hari raya Idul Fitri yang paling umum. Kue ini biasanya dibuat dari tepung terigu, gula, dan mentega. Kue kering memiliki tekstur yang renyah dan gurih.

  • Kue Basah

    Kue basah merupakan jenis jajan hari raya Idul Fitri yang memiliki tekstur yang lebih lembut dan basah. Kue ini biasanya dibuat dari tepung beras, tepung ketan, atau tepung sagu. Kue basah memiliki rasa yang manis dan legit.

  • Minuman

    Minuman juga merupakan bagian dari jajan hari raya Idul Fitri. Minuman yang biasa disajikan saat hari raya adalah sirup, es buah, dan jus buah. Minuman ini berfungsi untuk menyegarkan dahaga setelah menyantap hidangan Lebaran.

Jenis jajan hari raya Idul Fitri terus berkembang seiring dengan waktu. Namun, beberapa jenis jajan tetap menjadi favorit masyarakat, seperti nastar, kastengel, dan kue putri salju. Jajan-jajan ini menjadi simbol kebersamaan dan kegembiraan saat hari raya Idul Fitri.

Bahan

Bahan merupakan aspek penting dalam jajan hari raya Idul Fitri. Bahan-bahan yang digunakan menentukan rasa, tekstur, dan kualitas jajan. Selain itu, bahan-bahan tertentu juga memiliki makna simbolis yang terkait dengan perayaan Idul Fitri.

  • Tepung

    Tepung merupakan bahan dasar yang paling umum digunakan dalam pembuatan jajan hari raya Idul Fitri. Tepung terigu, tepung beras, dan tepung ketan adalah jenis tepung yang paling sering digunakan. Tepung berfungsi untuk memberikan struktur dan tekstur pada jajan.

  • Gula

    Gula merupakan bahan yang digunakan untuk memberikan rasa manis pada jajan hari raya Idul Fitri. Gula pasir, gula merah, dan gula aren adalah jenis gula yang paling sering digunakan. Gula juga dapat digunakan untuk membuat hiasan pada jajan.

  • Mentega

    Mentega merupakan bahan yang digunakan untuk memberikan rasa gurih dan tekstur yang renyah pada jajan hari raya Idul Fitri. Mentega juga dapat digunakan untuk membuat adonan lebih lembut dan mudah dibentuk.

  • Telur

    Telur merupakan bahan yang digunakan untuk memberikan struktur dan tekstur pada jajan hari raya Idul Fitri. Telur juga dapat digunakan untuk membuat adonan lebih mengembang dan lembut.

Selain bahan-bahan dasar tersebut, jajan hari raya Idul Fitri juga dapat menggunakan bahan-bahan tambahan seperti kacang-kacangan, buah-buahan, dan rempah-rempah. Bahan-bahan tambahan ini dapat memberikan rasa, tekstur, dan aroma yang lebih kompleks pada jajan.

Rasa

Rasa merupakan salah satu aspek terpenting dari jajan hari raya Idul Fitri. Rasa yang khas dan lezat dapat membuat jajan ini menjadi lebih istimewa dan berkesan. Rasa jajan hari raya Idul Fitri dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain bahan-bahan yang digunakan, proses pembuatan, dan tradisi kuliner setempat.

Bahan-bahan yang digunakan dalam pembuatan jajan hari raya Idul Fitri biasanya memiliki rasa yang manis, gurih, atau kombinasi keduanya. Rasa manis berasal dari penggunaan gula, madu, atau buah-buahan. Rasa gurih berasal dari penggunaan mentega, keju, atau kacang-kacangan. Kombinasi rasa manis dan gurih dapat menciptakan rasa yang lebih kompleks dan nikmat.

Proses pembuatan jajan hari raya Idul Fitri juga dapat mempengaruhi rasa. Misalnya, kue kering yang dipanggang akan memiliki rasa yang lebih renyah dan gurih dibandingkan dengan kue basah yang dikukus. Selain itu, penggunaan rempah-rempah dan bahan tambahan lainnya juga dapat memberikan rasa yang lebih unik dan khas pada jajan hari raya Idul Fitri.

Baca Juga :  Banner Halal Bihalal Idul Fitri

Tradisi kuliner setempat juga berperan penting dalam membentuk rasa jajan hari raya Idul Fitri. Setiap daerah memiliki tradisi kuliner yang berbeda-beda, sehingga menghasilkan jajan hari raya Idul Fitri dengan rasa yang khas. Misalnya, di Jawa Tengah, jajan hari raya Idul Fitri biasanya memiliki rasa yang manis dan legit, sedangkan di Sumatera Barat, jajan hari raya Idul Fitri biasanya memiliki rasa yang gurih dan pedas.

Rasa jajan hari raya Idul Fitri memiliki makna simbolis tersendiri. Rasa manis melambangkan kebahagiaan dan kegembiraan, sedangkan rasa gurih melambangkan kemakmuran dan keberkahan. Jajan hari raya Idul Fitri yang memiliki rasa manis dan gurih sekaligus melambangkan harapan agar kehidupan di tahun yang akan datang dipenuhi dengan kebahagiaan, kegembiraan, kemakmuran, dan keberkahan.

Makna

Makna memiliki hubungan yang erat dengan jajan hari raya Idul Fitri. Jajan hari raya Idul Fitri tidak hanya sekadar makanan, tetapi juga memiliki makna simbolis dan filosofis yang dalam. Makna tersebut terkait dengan nilai-nilai dan tradisi yang dianut oleh masyarakat muslim.

Salah satu makna jajan hari raya Idul Fitri adalah sebagai simbol kebahagiaan dan kegembiraan. Jajan hari raya Idul Fitri biasanya memiliki rasa yang manis, yang melambangkan kebahagiaan dan kegembiraan yang dirasakan oleh umat muslim setelah sebulan penuh berpuasa. Selain itu, jajan hari raya Idul Fitri juga sering dijadikan sebagai hadiah atau oleh-oleh, yang melambangkan rasa syukur dan kebersamaan.

Makna lainnya dari jajan hari raya Idul Fitri adalah sebagai simbol kemakmuran dan keberkahan. Jajan hari raya Idul Fitri biasanya dibuat dari bahan-bahan yang berkualitas baik, yang melambangkan harapan agar kehidupan di tahun yang akan datang dipenuhi dengan kemakmuran dan keberkahan. Selain itu, jajan hari raya Idul Fitri juga sering disajikan dalam jumlah yang banyak, yang melambangkan harapan agar rezeki yang diperoleh di tahun yang akan datang juga melimpah.

Dengan demikian, makna jajan hari raya Idul Fitri sangatlah penting. Makna tersebut tidak hanya sekadar simbolis, tetapi juga menjadi pengingat akan nilai-nilai dan tradisi yang dianut oleh masyarakat muslim. Jajan hari raya Idul Fitri menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan Idul Fitri, yang tidak hanya dinikmati sebagai makanan, tetapi juga sebagai simbol kebahagiaan, kegembiraan, kemakmuran, dan keberkahan.

Tradisi

Tradisi memiliki hubungan yang erat dengan jajan hari raya Idul Fitri. Jajan hari raya Idul Fitri tidak hanya sekadar makanan, tetapi juga merupakan bagian dari tradisi masyarakat muslim dalam merayakan hari raya Idul Fitri.

Salah satu tradisi yang berkaitan dengan jajan hari raya Idul Fitri adalah tradisi membuat dan menyajikan jajan tersebut kepada keluarga, teman, dan tetangga. Tradisi ini melambangkan kebersamaan dan silaturahmi. Jajan hari raya Idul Fitri menjadi media untuk mempererat tali persaudaraan antar sesama.

Selain itu, tradisi jajan hari raya Idul Fitri juga terkait dengan nilai-nilai religius. Jajan hari raya Idul Fitri sering dijadikan sebagai sedekah atau hadiah kepada orang-orang yang membutuhkan. Tradisi ini mengajarkan nilai-nilai berbagi dan kepedulian sosial.

Dengan demikian, tradisi jajan hari raya Idul Fitri memiliki makna yang penting dalam perayaan Idul Fitri. Tradisi ini tidak hanya sekadar kebiasaan, tetapi juga menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat muslim. Tradisi jajan hari raya Idul Fitri menjadi pengingat akan nilai-nilai kebersamaan, silaturahmi, dan kepedulian sosial.

Budaya

Budaya merupakan salah satu aspek penting yang tidak dapat dipisahkan dari jajan hari raya Idul Fitri. Budaya memiliki pengaruh yang besar terhadap jenis, rasa, dan makna jajan hari raya Idul Fitri di setiap daerah.

Salah satu contoh pengaruh budaya terhadap jajan hari raya Idul Fitri adalah penggunaan bahan-bahan lokal. Di Jawa Tengah, misalnya, jajan hari raya Idul Fitri biasanya menggunakan bahan-bahan seperti tepung beras, gula jawa, dan kelapa. Sedangkan di Sumatera Barat, jajan hari raya Idul Fitri biasanya menggunakan bahan-bahan seperti tepung ketan, santan, dan gula aren. Penggunaan bahan-bahan lokal ini mencerminkan budaya dan tradisi kuliner setempat.

Selain bahan-bahan, budaya juga mempengaruhi rasa jajan hari raya Idul Fitri. Di daerah yang memiliki budaya yang cenderung manis, seperti Jawa Tengah, jajan hari raya Idul Fitri biasanya memiliki rasa yang manis. Sedangkan di daerah yang memiliki budaya yang cenderung gurih, seperti Sumatera Barat, jajan hari raya Idul Fitri biasanya memiliki rasa yang gurih. Rasa jajan hari raya Idul Fitri ini juga dipengaruhi oleh tradisi kuliner setempat, seperti penggunaan bumbu-bumbu tertentu.

Dengan demikian, budaya memiliki hubungan yang erat dengan jajan hari raya Idul Fitri. Budaya mempengaruhi jenis, rasa, dan makna jajan hari raya Idul Fitri di setiap daerah. Jajan hari raya Idul Fitri menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat muslim, yang mencerminkan tradisi kuliner dan nilai-nilai budaya setempat.

Baca Juga :  Gita Gutawa Idul Fitri

Ekonomi

Jajan hari raya Idul Fitri memiliki hubungan yang erat dengan ekonomi. Jajan hari raya Idul Fitri dapat menjadi sumber pendapatan tambahan bagi masyarakat, khususnya bagi pelaku usaha kecil dan menengah (UMKM). Produksi dan penjualan jajan hari raya Idul Fitri dapat menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Selain itu, jajan hari raya Idul Fitri juga dapat menjadi indikator kondisi ekonomi masyarakat. Ketika kondisi ekonomi masyarakat baik, biasanya permintaan terhadap jajan hari raya Idul Fitri akan meningkat. Sebaliknya, ketika kondisi ekonomi masyarakat buruk, permintaan terhadap jajan hari raya Idul Fitri akan menurun.

Salah satu contoh nyata hubungan antara jajan hari raya Idul Fitri dan ekonomi adalah tradisi membuat dan menjual kue kering Lebaran. Kue kering Lebaran merupakan salah satu jenis jajan hari raya Idul Fitri yang paling populer. Menjelang hari raya Idul Fitri, banyak masyarakat yang membuat dan menjual kue kering Lebaran untuk menambah penghasilan mereka. Bahkan, ada sebagian masyarakat yang menjadikan pembuatan dan penjualan kue kering Lebaran sebagai mata pencaharian utama mereka.

Selain itu, jajan hari raya Idul Fitri juga dapat menjadi daya tarik wisata kuliner. Di beberapa daerah, jajan hari raya Idul Fitri menjadi salah satu kuliner khas yang diburu oleh wisatawan. Hal ini dapat memberikan dampak positif bagi perekonomian daerah tersebut, khususnya bagi pelaku usaha kuliner dan pariwisata.

Sosial

Jajan hari raya Idul Fitri memiliki hubungan yang erat dengan aspek sosial. Jajan hari raya Idul Fitri tidak hanya sekadar makanan, tetapi juga menjadi media untuk mempererat tali silaturahmi dan memperkuat ikatan sosial antar sesama.

  • Pembagian

    Salah satu aspek sosial yang terkait dengan jajan hari raya Idul Fitri adalah tradisi pembagian jajan kepada keluarga, teman, dan tetangga. Tradisi ini melambangkan kebersamaan, saling berbagi, dan kepedulian sosial.

  • Silaturahmi

    Jajan hari raya Idul Fitri juga menjadi media untuk mempererat silaturahmi. Saat bersilaturahmi ke rumah kerabat atau teman, biasanya orang-orang akan membawa jajan hari raya Idul Fitri sebagai buah tangan. Tradisi ini membantu mempererat hubungan antar sesama dan memperkuat ikatan sosial.

  • Kepedulian Sosial

    Jajan hari raya Idul Fitri juga dapat menjadi bentuk kepedulian sosial. Sebagian masyarakat sering membagikan jajan hari raya Idul Fitri kepada orang-orang yang membutuhkan, seperti anak yatim, kaum dhuafa, dan masyarakat kurang mampu. Tradisi ini mengajarkan nilai-nilai berbagi dan kepedulian terhadap sesama.

Dengan demikian, aspek sosial memiliki hubungan yang erat dengan jajan hari raya Idul Fitri. Jajan hari raya Idul Fitri menjadi media untuk mempererat tali silaturahmi, memperkuat ikatan sosial, dan menumbuhkan nilai-nilai berbagi dan kepedulian terhadap sesama. Tradisi jajan hari raya Idul Fitri tidak hanya sekadar kebiasaan, tetapi juga menjadi bagian dari nilai-nilai sosial masyarakat muslim.

Kesehatan

Jajan hari raya Idul Fitri merupakan salah satu aspek penting dalam perayaan Idul Fitri. Namun, di balik rasanya yang lezat, jajan hari raya Idul Fitri juga perlu diperhatikan dampaknya terhadap kesehatan. Beberapa jenis jajan hari raya Idul Fitri mengandung tinggi gula, lemak, dan kalori, yang dapat berdampak negatif bagi kesehatan jika dikonsumsi secara berlebihan.

Salah satu dampak negatif jajan hari raya Idul Fitri yang berlebihan adalah peningkatan risiko obesitas. Obesitas merupakan kondisi di mana seseorang memiliki kelebihan berat badan atau lemak tubuh yang berlebihan. Obesitas dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit kronis, seperti penyakit jantung, stroke, diabetes tipe 2, dan beberapa jenis kanker.

Selain obesitas, konsumsi jajan hari raya Idul Fitri yang berlebihan juga dapat meningkatkan risiko penyakit diabetes tipe 2. Diabetes tipe 2 adalah kondisi di mana tubuh tidak dapat menggunakan insulin secara efektif, sehingga kadar gula darah menjadi tinggi. Diabetes tipe 2 dapat menyebabkan berbagai komplikasi, seperti kerusakan mata, penyakit jantung, dan stroke.

Oleh karena itu, penting untuk mengonsumsi jajan hari raya Idul Fitri secara bijaksana. Batasi konsumsi jajan hari raya Idul Fitri yang tinggi gula, lemak, dan kalori. Pilihlah jajan hari raya Idul Fitri yang lebih sehat, seperti buah-buahan, sayuran, atau jajan hari raya Idul Fitri yang dibuat dengan bahan-bahan alami dan rendah gula.

Pariwisata

Pariwisata memiliki hubungan yang erat dengan jajan hari raya Idul Fitri. Jajan hari raya Idul Fitri dapat menjadi daya tarik wisata kuliner bagi wisatawan, baik wisatawan domestik maupun wisatawan mancanegara.

Di beberapa daerah, jajan hari raya Idul Fitri menjadi salah satu kuliner khas yang diburu oleh wisatawan. Misalnya, di Jawa Tengah, kue kering Lebaran menjadi salah satu oleh-oleh khas yang banyak dibeli oleh wisatawan. Selain itu, di Sumatera Barat, kue katan dan rendang menjadi kuliner khas yang banyak dicari oleh wisatawan saat Hari Raya Idul Fitri.

Baca Juga :  Susunan Acara Sholat Idul Fitri

Kehadiran wisatawan yang ingin membeli jajan hari raya Idul Fitri dapat memberikan dampak positif bagi perekonomian daerah. Pelaku usaha kuliner dan pariwisata dapat memperoleh keuntungan dari meningkatnya permintaan jajan hari raya Idul Fitri. Selain itu, pariwisata kuliner jajan hari raya Idul Fitri juga dapat mempromosikan budaya dan tradisi masyarakat setempat.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ) tentang Jajan Hari Raya Idul Fitri

Berikut adalah beberapa pertanyaan yang sering diajukan tentang jajan hari raya Idul Fitri:

Pertanyaan 1: Apa saja jenis jajan hari raya Idul Fitri yang populer?

Jawaban: Jajan hari raya Idul Fitri yang populer antara lain kue kering (seperti nastar, kastengel, putri salju), kue basah (seperti lemper, klepon, onde-onde), dan minuman (seperti sirup, es buah, jus buah).

Pertanyaan 2: Apa makna dari jajan hari raya Idul Fitri?

Jawaban: Jajan hari raya Idul Fitri memiliki makna simbolis yang terkait dengan perayaan Idul Fitri, seperti kebahagiaan, kegembiraan, kemakmuran, dan keberkahan.

Pertanyaan 3: Bagaimana cara membuat jajan hari raya Idul Fitri?

Jawaban: Cara membuat jajan hari raya Idul Fitri berbeda-beda tergantung pada jenis jajannya. Namun, secara umum, bahan-bahan yang digunakan adalah tepung terigu, gula, mentega, telur, dan bahan tambahan lainnya sesuai dengan jenis jajannya.

Pertanyaan 4: Di mana bisa membeli jajan hari raya Idul Fitri?

Jawaban: Jajan hari raya Idul Fitri dapat dibeli di pasar tradisional, toko kue, atau toko swalayan. Selain itu, jajan hari raya Idul Fitri juga dapat dipesan secara online melalui berbagai platform e-commerce.

Pertanyaan 5: Apakah jajan hari raya Idul Fitri sehat?

Jawaban: Jajan hari raya Idul Fitri umumnya mengandung tinggi gula dan lemak. Oleh karena itu, sebaiknya dikonsumsi secara bijaksana dan tidak berlebihan untuk menjaga kesehatan.

Pertanyaan 6: Apa saja tips untuk menikmati jajan hari raya Idul Fitri dengan sehat?

Jawaban: Untuk menikmati jajan hari raya Idul Fitri dengan sehat, sebaiknya pilih jajan yang lebih sehat, seperti buah-buahan atau jajan yang dibuat dengan bahan-bahan alami dan rendah gula. Selain itu, batasi konsumsi jajan hari raya Idul Fitri dan imbangi dengan makanan sehat lainnya.

Demikianlah beberapa pertanyaan yang sering diajukan tentang jajan hari raya Idul Fitri. Semoga artikel ini bermanfaat dan memberikan informasi yang lengkap tentang jajan hari raya Idul Fitri.

Selanjutnya, kita akan membahas tentang sejarah perkembangan jajan hari raya Idul Fitri. Bagaimana jajan hari raya Idul Fitri berkembang dari waktu ke waktu, dan apa saja faktor-faktor yang mempengaruhinya? Simak ulasan lengkapnya di bagian selanjutnya.

Tips Menikmati Jajan Hari Raya Idul Fitri dengan Sehat

Setelah membahas berbagai aspek jajan hari raya Idul Fitri, kini saatnya kita membahas tips untuk menikmati jajan hari raya Idul Fitri dengan sehat.

Tip 1: Pilih Jajan yang Lebih Sehat

Pilihlah jajan hari raya Idul Fitri yang lebih sehat, seperti buah-buahan atau jajan yang dibuat dengan bahan-bahan alami dan rendah gula. Hindari jajan yang mengandung tinggi gula, lemak, dan kalori.

Tip 2: Batasi Konsumsi

Batasi konsumsi jajan hari raya Idul Fitri. Jangan makan jajan hari raya Idul Fitri secara berlebihan, karena dapat berdampak negatif bagi kesehatan.

Tip 3: Imbangi dengan Makanan Sehat

Imbangi konsumsi jajan hari raya Idul Fitri dengan makanan sehat lainnya, seperti buah-buahan, sayuran, dan makanan pokok.

Tip 4: Minum Air Putih yang Cukup

Minum air putih yang cukup untuk membantu tubuh mengeluarkan racun-racun akibat konsumsi jajan hari raya Idul Fitri.

Tip 5: Olahraga Teratur

Olahraga teratur dapat membantu membakar kalori berlebih akibat konsumsi jajan hari raya Idul Fitri.

Tip 6: Istirahat yang Cukup

Istirahat yang cukup dapat membantu tubuh memulihkan diri dari konsumsi jajan hari raya Idul Fitri yang berlebihan.

Dengan mengikuti tips di atas, Anda dapat menikmati jajan hari raya Idul Fitri dengan lebih sehat dan tanpa khawatir akan dampaknya bagi kesehatan.

Tips-tips di atas sangat penting untuk diperhatikan, terutama bagi Anda yang memiliki kondisi kesehatan tertentu, seperti diabetes atau obesitas. Dengan menikmati jajan hari raya Idul Fitri secara sehat, Anda dapat tetap merayakan Hari Raya Idul Fitri dengan penuh kebahagiaan dan tanpa mengorbankan kesehatan.

Kesimpulan

Jajan hari raya Idul Fitri merupakan aspek penting dalam perayaan Idul Fitri. Jajan hari raya Idul Fitri memiliki berbagai jenis, rasa, makna, dan tradisi yang terkait dengan nilai-nilai dan budaya masyarakat muslim. Selain itu, jajan hari raya Idul Fitri juga memiliki dampak ekonomi, sosial, kesehatan, dan pariwisata.

Dalam artikel ini, kita telah membahas berbagai aspek jajan hari raya Idul Fitri, mulai dari jenis, bahan, rasa, makna, tradisi, budaya, ekonomi, sosial, kesehatan, hingga pariwisata. Kita juga telah membahas tips untuk menikmati jajan hari raya Idul Fitri dengan sehat.

Melalui artikel ini, diharapkan pembaca dapat memahami lebih dalam tentang jajan hari raya Idul Fitri dan dapat menikmatinya dengan lebih bijaksana dan sehat. Jajan hari raya Idul Fitri tidak hanya sekadar makanan, tetapi juga merupakan bagian dari budaya dan tradisi masyarakat muslim yang perlu dijaga dan dilestarikan.



Rekomendasi Herbal Alami:

Artikel Terkait

Bagikan:

sisca

Halo, Perkenalkan nama saya Sisca. Saya adalah salah satu penulis profesional yang suka berbagi ilmu. Dengan Artikel, saya bisa berbagi dengan teman - teman. Semoga semua artikel yang telah saya buat bisa bermanfaat. Pastikan Follow iainpurwokerto.ac.id ya.. Terimakasih..

Tags