Visitasi Transformasi IAIN Purwokerto Menjadi UIN Prof. KH. Saifuddin Zuhri

Tim Asesor Direktorat Jenderal Pendidikan Islam melakukan visitasi Transformasi IAIN Purwokerto menjadi UIN Prof. KH. Saifuddin Zuhri, Sabtu (7/12/2019) di Ruang Sidang Senat Gedung Rektorat Lantai 2. Tim tersebut terdiri dari Rojikin (Inspektur Investigasi Itjen Kementerian Agama) dan Zidal Huda (Kasi Penjaminan Mutu PTKI Ditjen Pendidikan Islam).

Turut hadir Sadewo Tri Lastiono Wakil Bupati Banyumas dan perwakilan dari Pemerintah Kabupaten Purbalingga. Keduanya menyatakan mendukung secara penuh dan siap membantu IAIN Purwokerto menjadi UIN Prof. KH. Saifudin Zuhri.

Dihadapan asesor, Rektor Moh. Roqib memaparkan Transformasi IAIN Purwokerto menjadi UIN Prof. KH. Saifuddin Zuhri. Pemaparan diawali dengan sejarah berdirinya IAIN Purwokerto. “Piagam pendirian ditandatangani oleh Menteri Agama Prof. KH. Saifuddin Zuhri pada tahun 1964. Selain menandatangani pendirian, Prof. KH. Saifuddin Zuhri juga asli Sokaraja Banyumas, itulah yang mendasari kami menamai UIN Prof. KH. Saifuddin Zuhri atau disingkat UIN SAIZU yang dalam bahasa Jepang SAIZU berarti timbangan, keseimbangan atau moderat. Dan Alhamdulillah untuk penamaan tersebut sudah mendapatkan persetujuan dari keluarganya,” ungkap Rektor.

Rektor menambahkan Sebelum menjadi STAIN Purwokerto pada tahun 1997, pernah menginduk ke IAIN Yogyakarta dan IAIN Semarang selama 33 tahun, kemudian pada tahun 2014 berubah bentuk dari STAIN menjadi IAIN Purwokerto.

“program 2015-2019 adalah pelaksanaan capacity building, sedangkan rencana program 2020-2024 yaitu transformasi institusi dan integrasi keilmuan, 2025-2029 empowering integration of science and religion hingga terus menjadi Islamic research university. Distingsinya adalah pusat kajian budaya lokal penginyongan, pusat kajian melayu raya dan program pesantren mitra,” jelasnya.

Kemudian Rektor menjelaskan paradigma keilmuan integratif-interdisiplin Jabalul Hikmah sebagai paradigma keilmuan UIN Prof. KH. Saifuddin Zuhri.

Sementara itu Rojikin mengatakan bahwa tantangan menjadi UIN tentu saja lebih besar karena akan mengembangkan apa yang dikembangkan terutama menyiapkan infrastruktur, SDM dan bisnis bila berstatus BLU. Dan tidak mungkin jika hanya mengandalkan pendapatan dari UKT.

Namun Rojikin optimis mengingat kota Purwokerto menjadi tujuan investasi di Jawa Tengah dan mengalami perkembangan yang luar biasa. “Purwokerto bisa seperti Malang yang pertumbuhan perguruan tingginya semakin meningkat,” ujarnya.

Di sesi terakhir Zidal Huda menerangkan bahwa visitasi ini adalah follow up dari dua kali self Asesment yang dilakukan oleh Ditjen Pendidikan Islam. Dari target 16 IAIN yang akan menjadi UIN hanya 9 IAIN yang divisitasi berdasarkan Self Asesment.

“Berdasarkan PMA Nomor 15 Tahun 2014, penilaian perubahan bentuk dari IAIN menjadi UIN meliputi penilaian kelengkapan administrasi, visitasi lapangan dan hasil penilaian,” kata Zidal dihadapan seluruh pejabat fungsional dan struktural IAIN Purwokerto

Zidal menutup dengan Mengutip pernyataan Dirjen Pendidikan Islam, bahwa transformasi ini diharapkan bisa memperkuat kajian Islamic studies, meningkatkan integrasi keilmuan Islam dan Sains, mempunyai distingsi sendiri dan menjadi destinasi kajian Islam Internasional.

Print Friendly, PDF & Email