UIN SAIZU Gelar Webinar Lintas Negara Indonesia-Thailand

Purwokerto— Beasiswa Cendekia BAZNAZ (BCB) Universitas Islam Negeri Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN SAIZU) Purwokerto menggelar Webinar Lintas Negara (Indonesia-Thailand) dengan tema ‘Mengenal Sejarah dan Perkembangan Pendidikan Islam di Pattani, Thailand’. Kegiatan yang diikuti lebih dari 300 peserta ini dlaksanakan secara online di Zoom Cloud Meeting jam 13.00 s/d selesai. (13/06/2021)

Acara ini menghadirkan Wakil Rektor 1 UIN SAIZU, Prof. Dr. Fauzi, M.Ag., sebagai keynote speaker. Menghadirkan narasumber dari Thailand, seorang alumni IAIN Purwokerto dan penulis muda Pattani, Abdul Wahid Kamae, M.M., narasumber kedua Intan Nur Azizah, M.Pd., seorang dosen muda dari UIN SAIZU yang juga alumnus PPL-KKN di Thailand.

Wakil Rektor I UIN SAIZU menyampaikan bahwa BAZNAZ (Badan Amil Zakat Nasional) sebagai mitra UIN SAIZU diharapkan tetap mendukung dan mensupport UIN SAIZU dalam peningkatan mutu Pendidikan khususnya mahasiswa UIN SAIZU.

“Dikarenakan jumlah mahasiswa kami yang kian bertambah, maka kami harap BAZNAZ bisa memberikan tambahan kuota beasiswa bagi mahasiswa kami. Kami juga membutuhkan support khusus dari BAZNAZ untuk prodi MAZAWA (Manajemen Zakat dan Wakaf) karena belum banyak dikenal oleh masyarakat. Padahal Indonesia mempunyai Undang-Undang yang mengatur tentang zakat. Salah satu potensi pembangunan bangsa juga dari zakat, maka kompetensi lulusan MAZAWA ini bisa menjadi potensi yang luar biasa,” ungkap Fauzi.

Fauzi juga menambahkan bahwa mahasiswa dari Pattani Thailand ini layak mendapatkan support dari BAZNAZ. UIN SAIZU membebaskan biaya UKT (Uang Kuliah Tunggal) bagi mahasiswa yang berasal dari Pattani, maka jika BAZNAZ bisa memberikan tambahan besasiswa untuk mereka, akan lebih sempurna. Hal ini sangat bermanfaat bagi negara Thailand karena Thailand merupakan negara dengan minoritas muslim. Jadi hal ini bisa meningkatkan kualitas muslim Pattani.

Abdul Wahid Kamae menjelaskan bahwa Islam masuk ke Pattani dan lembaga Islam di Pattani.

“Islam masuk ke Pattani melalui tiga hal, perdagangan, pengajaran, dan social. Kemudian muncullah lima model Sistem Lembaga Pendidikan Islam di Pattani, yaitu Sistem Lembaga Pendidikan berbasis masjid atau surau, pondok pesantren tradisional, madrasah, Sekolah Melayu (taman Didikan Kanak-Kanak), dan pondok pesantren modern (Sekolah Swasta Pendidikan Islam),” jelasnya.

Intan Nur Azizah, M.Pd., menjelaskan bahwa melaksanakan KKN di Pattani Thailand mengajarkan banyak hal mulai dari cara hidup ditengah-tengah masyarakat yang memiliki kultur daerah yang secara umum berbeda, kemudian bagaimana cara supaya kehadirannya mampu diterima dan memberikan pengaruh yang positif khususnya bagi pelajar di sana.

“Dari Pattani saya belajar bahwa perbedaan kebudayaan atau tradisi tidak menjadi sebab terjadinya konflik, justru perbedaan itulah warna yang dapat memperindah kehidupan. Pelangi itu bisa indah karena warna-warninya, bukan karena satu warna saja. Jadi, saya banyak belajar bagaimana kita bisa melihat sesuatu dari berbagai perspektif, bukan hanya perspektif kita saja, sehingga akan lebih bijak dalam memandang segala realitas yang ada,” jelas Intan.

“Menjadi mahasiswa yang kritis tidak hanya sekedar mampu melihat kekurangan-kekurangan atau kelemahan terhadap suatu hal, akan tetapi harus mampu menawarkan solusi atas persoalan-persoalan yang ada,” pungkasnya.

(Tim Media 2021)

 

 

Print Friendly, PDF & Email