Tantangan Advokat di Era 4.0

Seminar Profesi Hukum dengan tema Peluang dan Tantangan Advokat Indonesia di Era 4.0 digelar di Auditorium IAIN Purwokerto, Rabu (07/11).

Sebelum pelaksanaan seminar, Wakil Dekan I Fakultas Syariah Ahmad Siddiq, MH  melakukan pemotongan tumpeng terlebih dahulu  dalam rangka Dies Natalis Fakultas Syariah ke -22. Acara dibuka oleh Wakil Dekan III Fakultas Syariah Bani Syarif Maula, MH.

Bani Syarif mengatakan bahwa rangkaian acara Dies Natalis ini sebagai ajang untuk membangun sikap sportif dengan melibatkan seluruh Ormawa Fakultas Syariah.

Bertindak sebagai Narasumber pada seminar tersebut adalah Sugeng Riyadi (Anggota Peradi/Dosen IAIN Purwokerto) dan Saleh Darmawan (Anggota Peradi/Bawaslu Banyumas).

Menurut Saleh Darmawan profesi hukum adalah profesi yang mulia karena ingin menegakkan keadilan. Peluang menjadi profesi hukum menjanjikan, perkembangan profesi hukum selain Jaksa, Hakim, Pengacara adalah Legal Audit, Mediator, Kurator dan lain-lain.

Terkait profesi advokat,  dalam Undang-Undang Advokat Nomor 18 Tahun 2003 sarjana hukum dari Fakultas Syariah mendapatkan kesempatan yang sama dari Fakultas Hukum lainnya untuk menjadi advokat, setelah mengikuti kursus profesi advokat.

“semakin banyak yang tertarik menjadi advokat merupakan tantangan tersendiri, tantangan lainnnya adalah perkembangan ekonomi politik dan budaya serta artificial intelligence (AI) yaitu mesin dengan kecerdasan buatan manusia yang mampu menyerupai konstruksi pemikiran manusia. Hal ini membuat masyarakat diuntungkan dengan mencari sendiri info hukum’” ungkap Saleh.

Namun kata Saleh tidak sepenuhnya diartikan AI mengambil alih, AI tidak punya jiwa kemanusiaan sedangkan ilmu hukum sosial butuh sentuhan manusiawi yang tidak bisa digantikan mesin. Saleh menghimbau mahasiswa agar memperdalam kapasitas keilmuan dengan mengikuti perkembangan yang ada. “Masih luas peluangnya,” ucap Saleh.