Seminar FTIK Bersama Syekh Muhsin Al-Muallim: Perbedaan Adalah Suatu Kemestian

Rabu siang (29/02) di Auditorium IAIN Purwokerto, Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) menggelar seminar bersama Syekh Muhsin Al-Muallim, Guru Besar tafsir dan sejarah dari Madinah. Seminar ini dihadiri 300 peserta dari mahasiswa dan umum.

Mewakili Rektor IAIN Purwokerto, Wakil Rektor I Dr. Fauzi dalam sambutannya mengatakan pentingnya narasumber dari luar negeri untuk menambah wawasan global dan meningkatkan standar mutu lulusan. Dengan transfer ilmu dan pengalaman dari Syekh Muhsin, Fauzi berharap mahasiswa menggunakan kesempatan ini dengan baik.

Berkaitan dengan transformasi IAIN Purwokerto menjadi UIN, kelak Fauzi menginginkan adanya kerjasama dengan universitas-universitas di Timur Tengah.

Sebelum menyampaikan materinya, Syekh Muhsin memuji keindahan alam Indonesia yang selaras dengan penduduknya yang mempunyai sifat keterbukaan, pemikiran yang cerdas dan ramah. Beliau juga menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya atas sambutan yang diberikan pihak IAIN Purwokerto.

Pada seminar kali ini Syekh Muhsin menjelaskan selama satu jam tafsir Surat Ali Imran ayat 103 وَاعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللّٰهِ جَمِيْعًا وَّلَا تَفَرَّقُوْ

“Dan berpegang teguhlah kamu semuanya pada tali Allah dengan berjama’ah dan janganlah bercerai berai”

“Ayat ini diawali dengan perintah diakhiri dengan larangan, artinya ada perintah kepada kaum muslimin sehingga kebaikan akan tercapai bila melaksanakan perintah di atas. Tali menjadi kuat jika komponen-komponen seperti benang-benang kecil bersatu, jadi tali tidak kuat dengan sendirinya, jadilah tali yang kuat karena pertikaian menjadikan tali lemah,” jelas Syekh Muhsin.

“Didalamnya ada perkara ikhtilaf yakni perbedaan pendapat dan pemikiran, bila tidak dipahami dengan baik akan menyebabkan perpecahan. Perbedaan adalah suatu kemestian karena tabiat manusia yang berbeda-beda. Agama tidak melarang mencari perbedaan pandangan tapi melarang perbedaan untuk saling membenci, Agama mengapresiasi perbedaan”, ungkapnya.

Sebagai insan akademik, Syekh Muhsin mengingatkan untuk tabayun dan meneliti perbandingan perbedaan untuk mengambil yang terbaik berdasakan dalil-dalil yang kuat dengan tujuan bukan untuk merendahkan, disinilah perlunya konsistensi untuk menelusuri.

“Untuk memahami perbedaan kuasai permasalahan yang ada, kaji secara seksama secara tematik, tidak mencari korban dalam perbedaan tapi mencari referensi utama, pahami pula istilah-istilah sehingga keilmuannya kuat dan mengakar,” kata Syekh Muhsin yang diterjemahkan oleh Dr. Safwan Mabrur.

Syekh Muhsin menambahkan sebagai akademisi hendaknya tidak mendahulukan anggapan atau pandangan orang dahulu untuk dijadikan keyakinan/justifikasi selamanya, tapi diihat dari kenyataan dan perkembangan yang ada.