Seminar Ekonomi Syariah: Wacana Riset Desa hingga Pusat Industri Halal Dunia.

Rektor IAIN Purwokerto Dr. Moh. Roqib meminta dua hal kepada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI). Pertama, untuk membuat rumusan dengan tema besar terkait ekonomi Islam yang bersumber dari Al Qur’an dan Hadits. Kedua, mengembangkan Desa riset. Hal tersebut disampaikan saat membuka acara dalam Seminar Nasional Politik dan Ekonomi, Kamis (10/10) di Auditorium IAIN Purwokerto.

Seminar diselenggarakan oleh FEBI dengan peserta sekitar 400 mahasiswa, temanya adalah Ekonomi Islam sebagai Kekuatan Ekonomi Politik di Indonesia Pasca Pemilu 2019. Bertindak sebagai Narasumber Prof. Dr. Muhammad Ketua STEI Yogyakarta dan AkhsyimAfandi, Ph.D dari Pascasarjana UII.

Rektor mencontohkan silaturahmi sebagai modal dasar ekonomi Islam. Esensi silaturahmi bisa melihat potensi ekonomi, saling memberi kasih sayang, mensejahterakan dan membahagiakan.

“Terkait permintaan kedua, agar mengembangkan Desa riset untuk mencari potensinya, sehingga muncul Desa percontohan dengan tingkat ekonomi syariah dan keislaman yang meningkat, “pinta Rektor.

Pada sesi pertama Prof. Muhammad mengatakan bahwa ekonomi syariah di Indonesia sedang melewati tahap yang penting di tengah ketidakpastian ekonomi global. Perannya masih belum maksimal disebabkan belum optimalnya pengembangan berbagai sektor dalam ekosistem perekonomian syariah, meski demikian hal di atas tidak menggambarkan kondisi dan potensi ekonomi syariah yang strategis.

Cakupan dan pengembangan ekonomi syariah yang masih condong kepada sektor keuangan juga merupakan kendala, pesatnya keuangan syariah dipicu kebutuhan masyarakat yang ingin terbebas dari riba.

“Disisi lain sektor riil tidak berkembang, oleh karena itu konotasi ekonomi syariah yang sama dengan keuangan syariah harus ditinjau ulang, “ungkap Prof. Muhammad

Prof. Muhammad kemudian memaparkan kondisi ekonomi syariah secara global dan nasional dengan melihat dari berbagai aspek, diantaranya lembaga Thomson Reuters yang mencatat peningkatan daya beli muslim di seluruh dunia.

“Indonesia punya potensi besar untuk menjadi pusat industri halal dunia, namun isu halal bagi sebagian pengusaha dipandang sebagai ancaman. Komitmen Pemerintah adalah kunci, Pemerintah sedang melaksanakan program industri halal seperti pembukaan bank wakaf dan kawasan industri namun belum cukup, “tutupnya.

Pada sesi selanjutnya Akhsyam Afandi berbicara mengenai peluang ekonomi syariah paska isu pemindahan ibukota. “Pemindahan ibu kota masih berupa wacana, harus mendapatkan persetujuan DPR. Wacana pemindahan ibu kota tidak berdampak karena ekonomi syariah kebal terhadap wacana, “kata Akhsyam.

Aksham menguraikan expected Marginal Costs dan Expected Marginal Benefits dari pemindahan ibu kota.

Menurutnya jika pemindahan ibu kota direncanakan, dieksekusi dan dikelola dengan baik dan hati-hati. Semua resiko yang muncul diminimalkan dan semua peluang manfaat dimaksimalkan, maka dampak bersihnya berpeluang besar positif bagi pengembangan ekonomi syariah. Artinya Marginal Benefits melebihi Marginal Costs.