REKTOR IAIN BERSINERGI DENGAN KESBANGPOL KUATKAN BELA NEGARA

 

 

Pemerintah Kabupaten Banyumas selenggarakan kegiatan “Penerimaan Kunjungan Kerja dari Kemepolhukam” di Kantor Kesbangpol Banyumas, Selasa (17/9). Acara ini dihadiri Imam Hidayat dari Kementrian Agama, Dr. KH. Mohammad Roqib M.Ag selaku Rektor IAIN Purwokerto sekaligus Ketua FKUB Banyumas, Bapak Zaen selaku perwakilan dari POLRI, serta 17 tokoh pemerintahan dan pendidikan di Kabupaten Banyumas. Serta menghadirkan pembicara Kolonel Inf Yusran Yunus dengan materi utama Instruksi Presiden No 7 Tahun 2019 tentang Rencana Aksi Nasional Bela Negara.

Kegiatan dibuka oleh Sadewo selaku Wakil Bupati Banyumas. Dalam sambutannya, mengutarakan tentang kondusivitas yang terjadi di Kabupaten Banyumas. Menurutnya, salah satu pihak yang berjasa dalam menjaga harmonitas kehidupan di Banyumas adalah FKUB (Forum Kerukunan Umat Beragama) yang diketuai oleh Moh. Roqib, yang juga menjabat sebagai Rektor IAIN Purwokerto. Pihaknya mengatakan bahwa dalam menyelesaikan konflik, mendahulukan jalan diskusi

“Dengan adanya konflik yang terjadi di Papua, misalnya, kami meminta kepada teman-teman yang tergabung dalam organisasi khusus mahasiswa Papua untuk berdiskusi sehingga akan menemukan inti dari permasalahan yang ada. Diskusi ini dilaksanakan dengan cara informal sehingga mereka dengan nyaman dapat menyampaikan apa yang ingin disampaikan dengan senang hati. Konflik di Papua pada dasarnya adalah upaya untuk memecah belah persatuan dan kesatuan.” tuturnya.

Acara dilanjut dengan pemaparan mengenai materi Bela Negara dan Moderasi Beragama. Menurut Yusran Yusuf, bela negara bukan hanya dengan mengangkat senjata dan bertempur. Orang yang bekerja menjadi tukang becak, tukang sapu juga melakukan bela negara sesuai dengan profesinya masing-masing. Peningkatan rasa bela negara ini harus dimulai dari kelompok paling kecil sehingga dapat dipahami dengan baik. Melalui UUD 1945 Pasal Ayat 3 dan Pasal 30 ayat 1 serta UU No. 3 Tahun 2002 menjadi paying hukum untuk melaksanakan aksi bela negara.. “Ada beberapa indikator diantaranya adalaha mencintai dan menyayangi Indonesia. Apabila kita sudah cinta maka akan membela dengan mati-matian. Itulah sebabnya agama menjadi sasaran paling bagus untuk menciptakan kerusuhan. Pemeluk agama akan melakukan apapun terkait dengan keyakinan.” Tegasnya.

Setelah pemaparan materi, dilanjutkan diskusi. Dalam kesempatan ini rektor IAIN Purwokerto sekaligus Ketua FKUB Banyumas Mohammad Roqib mengutarakan beberapa hal penting berkaitan usaha bela Negara dan moderasi beragama. Salah satunya adalah tentang modul atau buku mengenai moderasi beragama yang ditulis oleh para rektor PTKIN perlu diperbanyak sebagai sarana menyebarkan misi moderasi beragama. Melalui buku inilah sosialisasi mengenai moderasi beragama dapat tersampaikan dengan baik.

Selain itu, ia juga mengutarakan keprihatinannya terhadap fenomena ketidaksiagaan aparat dalam aksi cepat menumpas radikalisme. Ia menyayangkan adanya indikasi radikalisme yang sudah didapatkan data-datanya namun tidak bisa diproses karena terkendala dengan HAM. Sehingga terkesan ada pembiaran dari aparat.

Kolonel Yusran Yunus menanggapi bahwa indiksi radikalisme yang dibiarkan sebenarnya bukan karena tanpa alasan. Akan tetapi lebih pada perlunya kajian-kajian ulang yang benar-benar sesuai dengan apa yang terjadi. Karena persoalan hokum bukan sesuatu yang sederhana, melainkan butuh data valid agar tidak menjadi boomerang bagi aparat. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan makan siang dan foto bersama. (DIS)