PRODI SAA SELENGGARAKAN DOA BERSAMA LINTAS IMAN

Program studi SAA (Studi Agama-agama) IAIN Purwokerto menyelenggarakan seminar nasional bertajuk “Indonesia Bersatu; Mewujudkan HAM dalam Keberagaman”, Senin (23/9) di Auditorium Utama IAIN Purwokerto. Acara yang dihadiri oleh 270 mahasiswa ini menghadirkan dua pembicara utama, yakni Manunggal K. Wardaya (Dosen Fakultas Hukum Unsoed Purwokerto) dan Dimas Indianto S. (Ketua Generasi Muda FKUB Banyumas).

Menurut ketua panitia, Halimatu Sa’diyah, acara ini diiniasi karena saat ini banyak sekali terjadi kerusuhan karena perbedaan pandangan. Acara ini juga tidak hanya diikuti mahasiswa Program Studi Agama-agama, tetapi juga mahasiswa dari prodi lain. Universalitas tema yang diangkat menjadi poin ketertarikan bagi setiap mahasiswa yang ingin mengetahui lebih lanjut tentang keindonesiaan dan keberagaman.

Pembicara pertama, Manunggal, mengutarakan tentang keberagaman dalam kacamata HAM. Ia menjelaskan persoalan payung hukum dalam berkehidupan kemasyarakatan di Indonesia. Menurutnya ada 5 pondasi melawan intoleransi, pertama, hukum, adanya kepastian hukum dan penegakan terhadap HAM. Kedua, informasi, akses yang merata terhadap keterbukaan informasi public. Ketiga, pendidikan, membiasakan masyarakat dengan perbedaan dan keragaman. Keempat, kesadaran individu, intropeksi diri dari etnosentrisme dan rasisme. Kelima, solusi bersama, keterlibatan seluruh pihak untuk mengakhiri intoleransi.

Sementara itu, pembicara kedua, Dimas, membawakan materi mengenai keberagamaan dan keberagaman. Menurutnya, Indonesia adalah negara multikultural. Untuk itu dibutuhkan kesadaran kolektif untuk bisa menerima perbedaan. Kemajemukan seperti itu berpotensi ganda: Positif dan negatif. Perbedaan dalam kemajemukan sangat mudah menjadi ketegangan, konflik dan kekerasan sosial apabila tidak dikelola secara baik.

Sebagai masyarakat yang baik, menurutnya, masyarakat perlu mempunyai kesadaran akan keragaman (plurality), Kesetaraan (equality), Kemanusiaan (humanity), dan Keadilan (justice). Dalam menekankan peran mahasiswa dalam membumikan pluralisme adalah dengan membangun pengetahuan (knowledge), sikap (attitude), perspektif dan kesadaran diri.

“Mahasiswa adalah harapan terbesar masyarakat, khususnya dalam menjaga kehidupan yang harmoni. Karena mahasiswa punya tiga tugas utama, yakni sebagai iron stock, manusia-manusia tangguh yang memilikikemampuan dan akhlak mulia yang  nantinya dapat menggantikan  generasi-generasi  sebelumnya; sebagai guardian of value, mahasiswa berperan sebagai penjaga nilai-nilai di masyarakat; dan sebagai agent of change, pemegang kunci perubahan” pungkasnya.

Sementara itu, ada satu hal menarik di penutupan acara. Yakni doa lintas iman. Hadir ke depan forum perwakilan agama-agama. Masing-masing perwakilan agama itu menyampaikan ikhwal pentingnya menjaga kerukunan dan kebersamaan. Karena melalui kesadaran kolektiflah, Indonesia, sebagai negara yang berragam akan semakin kokoh, sebaliknya, jika setiap unsur tidak bisa bersinergi, ditakutkan akan terjadi perpecahan. (DIS)

 

 

 

Print Friendly, PDF & Email