PERPUSTAKAAN IAIN PURWOKERTO DI ERA NEW NORMAL

PURWOKERTO—Sejak kebijakan physical distancing dan Work from Home (WfH) diterapkan Maret lalu, hampir semua layanan di IAIN Purwokerto dilakukan secara daring (online), termasuk pelayanan di perpustakaan.  Kerumunan mahasiswa yang berdiskusi, mengerjakan tugas, atau sekadar menunggu jam perkuliahan di teras perpustakaan sudah lama tidak lagi terlihat akibat kondisi pandemi. Hal tersebut dilakukan demi memutus mata rantai penularan Covid-19.

Awal Juni, IAIN Purwokerto mulai membuka kembali pelayanan secara luring (offline) dengan menerapkan protokol kesehatan pencegahan Covid-19. Di teras perpustakaan telah terpasang kursi tunggu untuk para pemustaka dengan jarak yang telah ditentukan. Tak hanya itu, di depan pintu masuk perpustakaan juga disediakan hand sanitizer yang wajib digunakan oleh pemustaka saat berkunjung.

Aris Nurohman, Kepala Perpustakaan IAIN Purwokerto mengatakan bahwa ia dan staff telah menyusun aturan pelayanan sesuai standar protokol Covid-19 untuk menghadapi situasi new normal sejak Mei lalu. Menurut Aris, perpustakaan merupakan salah satu tempat yang banyak menjadi tujuan mahasiswa karena sifatnya yang memberikan pelayanan referensi pustaka. Meski telah disediakan pustaka daring melalui laman yang tersedia, masih banyak mahasiswa yang lebih menyenangi akses pustaka fisik karena variasi dan koleksinya yang cenderung lebih lengkap.

Untuk mengantisipasi kerumunan yang tidak sesuai dengan protokol penanganan Covid-19, Perpustakaan IAIN Purwokerto menerapkan beberapa kebijakan baru bagi pemustaka di lingkungan operasionalnya. Hal tersebut tertuang dalam Surat Edaran Nomor: B-455/In.17/UPT. Perpust/HM.02.2/VI/2020 tentang sistem layanan UPT Perpustakaan dalam tatanan normal baru yaitu perpustakaan memberikan pelayanan selama lima hari kerja, sesuai dengan jam kerja Kemenag RI. Sebelum pandemi, layanan perpustakaan dilakukan selama enam hari (Senin-Sabtu).  Selain itu, perpustakaan masih membagi layanan menjadi dua jenis, yaitu daring seperti permohonan pembuatan beberapa surat keterangan hingga bimbingan/ konsultasi pustaka dengan pustakawan. Sedangkan layanan yang diberikan secara luring meliputi layanan pengembalian dan peminjaman koleksi fisik.

Mekanisme pelayanan luring diatur sedemikian rupa supaya tetap aman, baik bagi pemustaka maupun bagi pustakawan yang bertugas. Sederet aturan seperti pemustaka dan pustakawan harus menggunakan masker, menggunakan handsanitizer, wajib menjaga jarak minimal 1,8 meter, menggunakan alat tulis masing-masing, serta mematuhi aturan pembatasan pelayanan peminjaman koleksi.

Aturan pembatasan waktu pelayanan ini dilakukan dengan metode shift, sehingga jumlah pemustaka yang mengakses ruang sirkulasi dibatasi demi mencegah terjadinya kerumunan pengunjung. Masing-masing shift diberlakukan selama 30 menit dengan maksimal pemustaka 10 orang. Selain itu, perpustakaan juga masih melakukan penutupan (pembatasan) fasilitas lain bagi pemustaka di antaranya ruang akses computer, bookless library, hall perpustakaan, ruang tandon, dan ruang diskusi. Perpustakaan juga memberlakukan akses satu pintu untuk pemustaka yang datang dan meninggalkan perpustakaan. Hal tersebut dimaksudkan agar pelayanan perpustakaan tetap optimal di era new normal. (Tim Media  2020)

Print Friendly, PDF & Email