PENGARUSUTAMAAN MODERASI ISLAM MELALUI SENI KENTONGAN OLEH KONTINGEN RACANA IAIN PURWOKERTO

Perubahan sosial di wilayah Banyumas telah memberikan social effect terhadap hampir semua lini kehidupan masyarakatnya, tak terkecuali dalam bidang kesenian. Salah satu bidang kesenian yang sedang booming adalah musik kentongan. Kentongan yang pada mulanya merupakan alat tradisional, hari ini telah menjadi salah satu bentuk musik alternatif yang sangat digemari oleh semua kalangan.

 

Kontingen PW dari IAIN Purwokerto pada acara etno carnaval sesaat setelah upacara pembukaan menampilkan kesenian kentongan yang dimainkan dengan gaya bernuansa religi. Barisan paling depan adalah 2 orang dengan busana adat Banyumasan disusul dengan pemain kentongan dan paling belakang adalah 2 wanita dengan kembang-kembang hasil kreatifitas racana IAIN Purwokerto.
Menurut Ketua Kontingen H. Supriyanto yang merupakan Wakil Rektor III IAIN Purwokerto penampilan karnaval dari kontingan kami merupakan simbol moderasi Islam. Ini merupakan bagian dari langgam pramuka di era millennial yang tidak lepas dari tradisi kultur masyarakat Banyumas.


Hal ini senada dengan ajakan Menteri Agama Lukman Hakim Saefudin pada pembukaan PW PTK ke-14 di UIN Suska Riau (3/5/2018). Saya mengajak kepada anggota pramuka Perguruan Tinggi Keagamaan untuk menjadi aktor penting “Pengarusutamaan Moderasi Agama”. Mari tebarkan budaya damai, sikap saling asah dalam memahami agama dan salih asuh dalam memahami kehidupan, untuk Indonesia yang lebih baik. Ajakan “Yang Waras Tidak Boleh Mengalah”, saya kira menjadi keharusan bagi mahasiswa PTK dalam partisipasinya menjadi duta agama yang moderat, ungkapnya.[mwa]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *