Kaleidoskop 2019: Pergantian Rektor, Pojok Penginyongan hingga Transformasi IAIN Menjadi UIN

Pergantian Rektor

Menteri Agama Republik Indonesia Lukman Hakim Syaefudin secara resmi melantik Dr. Moh. Roqib, M.Ag sebagai Rektor IAIN Purwokerto periode 2019-2023 pada hari Senin (08/04) di Gedung Kementerian Agama Jakarta.

Dr. Moh. Roqib, M.Ag menggantikan Dr. A. Luthfi Hamidi, M.Ag Rektor IAIN Purwokerto 2015-2019. Sebelum menjadi Rektor, Dr. Moh. Roqib, M.Ag  pernah menjabat sebagai Pembantu Ketua I STAIN Purwokerto, Direktur Pasca Sarjana dan Ketua Senat IAIN Purwokerto tahun 2017-2019.

Dalam sambutan serah terima jabatan Dr. A. Luthfi Hamidi merasa plong setelah terima jabatan ini dan mengucapkan terimakasih kepada seluruh civitas akademik yang telah membantunya selama sembilan tahun. “Tanpa bantuan kalian semua saya tidak ada apa-apanya, banyak hal yang telah dilakukan dan lebih banyak lagi yang belum dilakukan, “katanya.

Kemudian Rektor Dr. Moh. Roqib dalam sambutannya mengucapkan terimakasih atas capaian yang diraih Dr. A. Luthfi Hamidi dalam merintis IAIN Purwokerto, Moh. Roqib lantas bercerita pernah ditugasi oleh Dr. A. Luthfi Hamidi untuk merintis kemitraan dengan pesantren dan merintis program pascasarjana.

“Beliau kreativitasnya luar biasa, sering guyon untuk mencairkan suasana ditengah pekerjaan yang menjenuhkan, bahkan diacara serah terima inipun suasana begitu cair dan menyenangkan, “ujarnya.

Moh. Roqib berharap keharmonisan ini harus selalu dijaga dan warisan prestasi beliau mesti ditingkatkan agar amal jariyahnya mengalir terus.

Budaya Penginyongan

Sehari setelah dilantik menjadi Rektor IAIN Purwokerto, Dr. Moh. Roqib langsung mengadakan rapat koordinasi bersama Bagian Akademik dan Kemahasiswaan, Bagian Perencanaan dan Keuangan serta LPPM IAIN Purwokerto di Ruang Rapat Rektor Lantai 2 Gedung Rektorat, Selasa (09/04)

Rektor menjelaskan fokus kerja IAIN Purwokerto 4 tahun ke depan: pertama menambah ilmu pengetahuan serta memperbanyak dan memperkuat jaringan untuk bekerjasama, kedua menambah kesejahteraan dengan asumsi semakin banyak aktivitas maka kesejahteraan bertambah terutama menjalin kerjasama dengan pihak lain.

Sedangkan ciri khas yang akan dikembangkan IAIN Purwokerto 4 tahun kedepan adalah pertama, meneliti dan mengembangkan budaya lokal (Pojok Penginyongan) di eks keresidenan Banyumas, sedangkan ciri khas kedua adalah mengembangkan ilmu budaya Melayu Raya dengan fokus penelitian pada negara-negara Asia Tenggara. Dalam hal Melayu Raya IAIN Purwokerto sudah menajajaki kerjasama dengan beberapa perguruan tinggi di Malaysia dan thailand

“dengan harapan jika nanti ada lembaga, pakar  atau peneliti yang membutuhkan informasi tentang hal-hal di atas bisa merujuk ke IAIN Purwokerto , “jelas Rektor.

Pojok Penginyongan diresmikan secara simbolik oleh Menteri Agama pada tanggal 12 Juli 2019 lalu, letaknya berada di lantai 2 Gedung Perpustakaan IAIN Purwokerto.

Pojok Penginyongan bermanfaat sebagai sarana prasarana dosen, mahasiswa dan masyarakat untuk mengenal lebih dalam tentang budaya penginyongan. Di dalamnya terdapat gambar dan tulisan-tulisan bernuansa penginyongan yang dilengkapi dengan literatur-literatur monograf dan audiovisual penginyongan, kemudian terdapat juga sarana komputer dan meja bundar untuk berdiskusi dan mempelajari budaya penginyongan.

Pojok Penginyongan merupakan lembaga yang memiliki tugas pokok melakukan kajian dan pengembangan budaya, tradisi, sistem keyakinan dan ekespresi komunikasi. Lembaga ini juga melakukan program pemberdayaan (empowering) atas berbagai potensi daerah yang berbasis pada local wisdom dengan menggandeng berbagai stakeholders. Komunitas yang memiliki tradisi Bahasa INYONG yang dimaksud adalah masyarakat yang berada di Provinsi Jawa Tengah yang meliputi 12 Kabupaten, yaitu Banyumas, Cilacap, Purbalingga, Banjarnegara, Kebumen, Temanggung, Wonosobo, Purworejo, Pemalang, Brebes, Tegal dan Kota Tegal.    Kerjasama yang sinergis antara IAIN Purwokerto dengan stakeholder dari 12 kabupaten tersebut diharapkan mampu menumbuhkembangkan potensi lokal untuk mendorong tujuan pembangunan nasional.

Transformasi IAIN menjadi UIN

Setelah dua kali dilakukan self Asesment terhadap proposal IAIN Purwokerto menjadi UIN Prof. KH Saifuddin Zuhri, Ditjen Pendidikan Islam menindaklanjuti dengan melakukan Visitasi Transformasi IAIN Purwokerto menjadi UIN Prof. KH. Saifuddin Zuhri pada tanggal 7 Desember 2019. Berdasarkan PMA Nomor 15 Tahun 2014, penilaian perubahan bentuk dari IAIN menjadi UIN meliputi penilaian kelengkapan administrasi, visitasi lapangan dan hasil penilaian.

IAIN Purwokerto sudah eligible untuk bertransformasi menjadi UIN Saizu, bahkan jika dilihat, nilainya berada pada peringkat Ke-3 dari seluruh IAIN yang mengajukan. Nilai IAIN Purwokerto saat ini adalah 324, sudah berada di atas nilai minimal yakni 300.

Sementara itu Asesor Dr. Rojikin mengatakan bahwa tantangan menjadi UIN tentu saja lebih besar karena akan mengembangkan apa yang dikembangkan terutama menyiapkan infrastruktur, SDM dan bisnis bila berstatus BLU. Dan tidak mungkin jika hanya mengandalkan pendapatan dari UKT.

Untuk itu IAIN Purwokerto sedang melakukan penjajakan kerjasama dengan Pemerintah Kabupaten Banyumas dan Kabupaten Purbalingga untuk mengembangkan kampus sesuai dengan desain yang diinginkan.  Apalagi kedua pemerintahan di atas mendukung secara penuh dan siap membantu IAIN Purwokerto menjadi UIN Prof. KH. Saifudin Zuhri.

Print Friendly, PDF & Email