Kala Penabuh Gamelan Iringi Prosesi Wisuda

Jelang acara wisuda, alunan gamelan mulai berbunyi, menyambut kedatangan para wisudawan memasuki ruangan, dengan nada lembutnya membuat suasana semakin syahdu. Satu persatu langkah wisudawan memasuki ruangan, satu persatu pula pemain gamelan menabuh alat musiknya.

Tidak sampai disitu saja, saat acara wisuda berlangsung mereka para personil gamelan rela menunggu ditempatnya hingga siang untuk kembali mengiringi kepulangan para wisudawan. Tidak nampak kelelahan dan keluh kesah diantara mereka, suasana menunggu diantara mereka penuh kehangatan dan keakraban. Keakraban tidak hanya sesama mereka tetapi terjalin juga keakraban dengan alat musik mereka.

Kita tidak tahu apa yang membuat mereka seperti itu, mungkin ikut merasa bahagia karena teman-temanya diwisuda, atau mungkin juga karena kecintaannya terhadap gamelan, atau ingin ikut mensukseskan acara wisuda atau ingin mendapat perhatian terutama dosen dan pejabat IAIN atau mungkin semuanya atau ada hal lain lagi atau diantara kemungkinan itu, kita juga tidak tahu.

Tabir di atas akan sedikit terkuak dengan info berikut ini. Mereka adalah mahasiswa IAIN Purwokerto, penabuh gamelan dari Komunitas Karawitan Setya Laras pimpinan Mbah Bejo. Menurut salah satu anggotanya Laila Fitriah, komunitas ini biasa mengiringi event penting kampus, sebulan yang lalu mengiringi seminar dan peresmian Pojok Penginyongan oleh Menteri Agama.

Laila menambahkan agenda kedepan akan mengiringi pembukaan PBAK Institut, mengiringi pagelaran wayang yang diadakan Dinas Pendidikan Kabupaten Banyumas dan akan memeriahkan Dies Natalis dengan menampilkan dalang putri. “di sini banyak yang ikut pelatihan dalang, yang wanita juga ada termasuk saya, “ujarnya sambil tersenyum.

“Alhamdulillah setiap wisuda ada saja anggota komunitas yang diwisuda, bahkan ada lulusan terbaik dari Prodi BKI, “Kata Mahasiswi Semester 5 KPI ini.

Namun Laila dan temannya berharap agar komunitas ini bisa menjadi Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) dan mempunyai peralatan yang tetap.

Apresiasi pantas disematkan kepada mereka karena ditengah arus informasi global ternyata masih ada anak muda Indonesia yang peduli dengan budaya lokal.

Sedidkit informasi tentang gamelan Jawa. Gamelan Jawa berkembang pesat pada jaman Majapahit. Bahkan menyebar ke berbagai daerah seperti Bali dan Sunda. Namun gamelan Jawa berbeda dengan gamelan Bali, berbeda juga dengan gamelan Sunda. Gamelan Jawa terbilang memiliki nada yang lebih lembut. Gamelan Bali cenderung rancak dan gamelan Sunda terdengar mendayu dengan dominasi seruling.

Gamelan Jawa umumnya dipakai untuk mengiringi pagelaran wayang dan pertunjukan tari. Sampai kemudian berkembang mengiringi acara-acara resmi hingga mampu membuat pertunjukan sendiri.

Bahkan di Mancanegara termasuk Eropa , Kanada dan Amerika Serikat, gamelan bukan hanya di pertontonkan tapi juga dipelajari dan dimainkan.