IAIN Purwokerto Membumikan Budaya Penginyongan

Purwokerto–Melalui Pusat Kajian dan Pengembangan Budaya Penginyongan, IAIN Purwokerto semakin getol menjenamakan diri (branding) sebagai “Kampus Penginyongan”. Sebagai kampus yang berlokasi di Kabupaten Banyumas, IAIN Purwokerto yang tengah dalam proses alih status menjadi UIN Saizu ini menunjukkan distingsi dengan wujud-wujud kepedulian serta upaya pengembangan budaya Penginyongan.

Hal tersebut mulai dilakukan sejak awal 2019 dengan diluncurkannya Pusat Kajian dan Pengembangan Budaya Penginyongan dan Pojok Penginyongan yang menampung berbagai referensi seputar Budaya Penginyongan. Tidak berhenti di situ, pada Kamis (15/10) IAIN Purwokerto menyelenggarakan sebuah webinar bertajuk Budaya Penginyongan: Kesejahteraan dan Kebahagiaan Masyarakat. Kegiatan webinar tersebut merupakan webinar pertama dari tiga sesi yang direncanakan akan dilaksanakan hingga akhir tahun.

Menghadirkan H. Ganjar Pranowo (Gubernur Jawa Tengah) sebagai salah satu pembicara tetapi berhalangan hadir, Ahmad Tohari (Budayawan Banyumas), serta Dr. K.H. Moh. Roqib, M. Ag. (Rektor IAIN Purwokerto), tak kurang dari 500 peserta mengikuti kegiatan webinar tersebut.

 

Dalam paparannya, Dr. K.H. Moh. Roqib, M. Ag. menyampaikan sejumlah agenda Pusat Kajian dan Pengembangan Budaya Penginyongan di antaranya yaitu membuat roadmap pengembangan budaya penginyongan, menyelenggarakan seminar dan dialog tokoh penginyongan di 8 kabupaten/kota, penerjemahan naskah kuna  dan penerbitan hasil penelitiannya, publikasi budaya penginyongan, gelar budaya penginyongan, dan beberapa agenda lain serupa guna mendorong budaya penginyongan semakin dikenal masyarakat luas dengan baik. Dalam paparannya, Rektor IAIN Purwokerto memohon dukungan masyarakat akan usaha ini.

Sementara itu, Ahmad Tohari, budayawan dan sastrawan asal Banyumas yang karya-karyanya telah mendunia, memberikan penjelasan tentang “Budaya Penginyongan” sebagai sebuah terminologi baru, bahwa hal tersebut adalah sebuah sikap kebersamaan dan kesetaraan yang menyatu menjadi sikap orang Banyumas yaitu guyub, sederajat, serta cablaka (berterus terang).

Beliau juga menyoroti serta mengapresiasi tema yang diambil IAIN Purwokerto dalam webinar tersebut dan memberi formulasi 4 syarat kebahagiaan ala orang penginyongan, yaitu asal ana pangan dadi wareg, asal ana sandhang dadi rapet, asal ana papan dadi anget (yang penting memiliki makanan supaya kenyang, memiliki pakaian sehingga tertutup, serta memiliki rumah tinggal sehingga merasa hangat). Hal-hal sederhana tersebut adalah cerminan masyarakat penginyongan agar dapat meraih kebahagiaan dalam hidupnya. Dalam paparannya, beliau juga berpesan pada seluruh penutur bahasa penginyongan agar tidak lagi rendah diri (underestimate) atas segala stigma rendah yang mungkin muncul di masyarakat tentang bahasanya.

“Hanya orang yang tidak mengerti dan tidak mau belajar sejarah yang berani memandang rendah martabat sebuah bahasa. Tunjukkan rasa bangga dan perilaku bermartabat dengan tidak memandang rendah martabat budaya dan bahasa lain juga,” pungkasnya. (Tim Media 2020)

 

 

 

Print Friendly, PDF & Email