IAIN Purwokerto Gelar Seminar Internasional: Lestarikan Arab Jawa Pegon sebagai Warisan Peradaban Islam

Purwokerto— IAIN Purwokerto menggelar Seminar Internasional Antar Bangsa Melayu Raya (jilid I) dengan tema “Melestarikan Arab Jawa Pegon sebagai Warisan Peradaban Islam di Wilayah Melayu Raya”. Seminar ini dilaksanakan secara offline di Hall IAIN Purwokerto dan secara online melalui aplikasi Zoom Cloud Meeting. Narasumber seminar ini berasal dari 3 negara, KH. Akhmad Utomo dari Arab Pegon Institute (Indonesia), Mukhammad Khairi dari USIM (Universitas Sains Islam Malaysia), dan Ahmad Yani dari UNISSA (Universitas Islam Sultan Sharif Ali Brunai Darussalam). (07/04/2021).

Ahmad Utomo mengungkapkan bahwa diskusi dengan pesantren-pesantren di Jawa sangat penting untuk menguatkan literasi Arab.

“Pengetahuan dan kemampuan santri bahkan Kyai terkait Arab pegon makin menurun. Akhirnya, diskusi dengan pesantren-pesantren di Jawa dan sekitarnya dilaksanakan, dengan niat menguatkan literasi Arab. Dari hal itulah muncul kesepakatan untuk membuat majalah Arab Pegon dengan nama Turos. Majalah tersebut mulai diterbitkan pada tahun 2010,” ungkap Ahmad Utomo.

Rektor IAIN Purwokerto Dr. KH. Moh. Roqib, M.Ag menjelaskan bahwa Budaya Melayu Raya merupakan budaya yang terutama berkembang di wilayah negara-negara Asia Tenggara dengan menggunakan simbol bahasa Melayu dan penulisan dengan Arab Jawi. Sebutan Jawi (bukan Jawa) digunakan untuk menyebut individu atau komunitas beragama Islam yang menggunakan bahasa Melayu dan berasal dari wilayah Asia Tenggara. Wilayah ini dalam sejarahnya pernah diikat oleh satu negara Sriwijaya (Sumatra) juga Majapahit (Jawa Timur) yang kekuasaannya melingkupi beberapa negara saat ini di Asia Tenggara.

“Berawal dari tulisan Jawi (pegon) sebagai identitas lokal, dikenal di dunia internasional. Dimulai dari kajian dan pengembangan tulisan Jawi dan Bahasa Melayu, diharapkan bisa dirintis kerjasama dalam penelitian kolaboratif khususnya terkait dengan budaya Melayu, pengiriman dosen dan mahasiswa antar daerah Melayu, dan peningkatan SDM pada masyarakat Melayu yang tinggal di daerah minoritas Melayu,” jelas Roqib.

Sedangkan Ahmad Yani menguraikan  kedudukan tulisan Jawi di Negara Brunei Darussalam tetap kuat dan tetap berada di kedudukan yang tinggi sampai saat ini. Bahkan  dokumen Permasyhuran Kemerdekaan Negara Brunei Darussalam dituliskan dalam versi Bahasa Melayu dalam dua bentuk tulisan, yaitu tulisan Jawi dan tulisan Rumi.

“Tulisan Jawi sama sekali tidak pernah tersisih dalam Sistem Pendidikan Negara dan peranannya sebagai medium dalam pendidikan agama Islam pula telah memperkukuh kedudukan tulisan Jawi. Kedudukan tulisan Jawi terus diperkuat dengan menjadikannya peraturan seperti yang terkandung dalam Surat Keliling Jabatan Perdana Menteri 21/1988, yang menggariskan peraturan penggunaan tulisan Jawi dalam urusan kerajaan dan swasta termasuk perniagaan atau perdagangan,” jelas Ahmad Yani.

(Tim Media 2021)

Print Friendly, PDF & Email