Halaqah dan Istighotsah IAIN Purwokerto dan Upaya Menuju Go International

Halaqah dan Istighotsah dalam rangka dies natalis Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Purwokerto ke 56 digelar di ruang pertemuan rektorat lantai 5, Sabtu (10/11/2018). Turut hadir ratusan civitas akademika serta para tamu undangan dari berbagai kalangan termasuk perwakilan dari Pemerintah Daerah, TNI dan Polri.
Para pengisi acara yang hadir adalah Rektor IAIN Purwokerto H. A. Luthfi Hamidi, Anggota Komisi VIII DPR RI Ahmad Mustaqim, K.H. Zainur Rahman, K.H. Ahmad Thohari dan K.H. Mughni Labib.
Acara diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an dan menyanyikan lagu Indonesia Raya, lalu dilanjutkan sambutan dari Rektor dengan mengungkapkan capaian-capaian yang telah dilakukan oleh IAIN Purwokerto dan berbicara tentang masa depan yang dimulai dengan target pencapaian Akreditasi A, menjadi Universitas Islam Negeri (UIN) dan bertekad sebagai destinasi studi Islam dunia. Langkah itu sudah dirintis, dimulai bekerjasama dengan JISDA (Perguruan Tinggi di Thailand Selatan) dan juga akan bekerjasama dengan Saint Mary’s University Hongkong.
“dengan Istighotsah ini mari kita membangun tradisi dengan baik dan semoga Allah SWT menjadikan IAIN Purwokerto Go International, “tutupnya.
Sambutan kedua diisi oleh Dewan Penyantun IAIN Purwokerto K. H. Ahmad Thohari, dengan nada optimis dan bangga mengucapkan syukur Alhamdulillah karena di Banyumas telah lahir muslim-muslim yang berkeadaban dan berbudaya, beliau juga berharap proyek terjemahan Al-Qur’an ke dalam bahasa Banyumas di IAIN Purwokerto segera terwujud.
Kemudian dengan penuh khidmat dan khusyu, do’a Istighotsah dipimpin langsung oleh K. H. Zainur Rahman. “jadilah pahlawan-pahlawan yang berguna bagi agama dan bangsa dan banyaklah berdoa agar selamat, karena itu adalah senjatanya orang beriman, “pesannya sebelum memimpin Istighotsah.
Selanjutnya dalam Halaqah, Ahmad Mustaqim menjelaskan tentang problematika anggaran program Pendidikan Islam yang tidak pernah turun tapi selalu kurang karena mempunyai ribuan satker yang harus dianggarkan. “Makanya hampir seluruh Rektor Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) berharap SBSN dilanjutkan. Namun untuk penelitian, DPR telah menyiapkan dana abadi sebesar 1,1 trilun rupiah, “tandasnya.
Ahmad Mustaqim juga berbicara tentang paradigma dan perkembangan ilmu pengetahuan umat Islam di Indonesia, dulu pada zaman kolonial Belanda umat Islam Indonesia dianggap sebagai inlander yaitu kaum dari kasta terendah yang tidak diberi kesempatan untuk belajar dan berkembang, namun kini umat Islam Indonesia mendapatkan pengakuan dan kesempatan untuk belajar. “apalagi dengan kehadiran PTKIN yang terus berubah dan berkembang, bahkan penghafal Al-Qur’an pun bisa mendapatkan beasiswa baik di perguruan tinggi umum maupun PTKIN, “katanya.
Halaqah dan Istighotsah diakhiri dengan pembacaan doa yang dipimpin oleh K.H. Mughni Labib. (acm)

Print Friendly, PDF & Email

Leave a Reply

Your email address will not be published.