Gebyar Tafsir dan Dialog Kebangsaan Bersama Prof. Nasarudin Umar

Rektor IAIN Purwokerto Dr. Moh. Roqib mengapresiasi langkah Fakultas Ushuluddin, Adab dan Humaniora (FUAH) IAIN Purwokerto bersinergi dengan Forum Komunikasi Mahasiswa Tafsir Hadits Indonesia (FKMTHI) dalam menggelar Gebyar Tafsir dan Dialog Kebangsaan dengan tema “Optimalisasi Tafsir Perdamaian Dalam Ayat Al Qur’an terhadap Nasionalisme Kebangsaan”.

Acara diadakan pada tanggal 16-18 Oktober 2019 di Auditorium IAIN Purwokerto. Selain dihadiri mahasiswa FUAH, acara tesebut juga dihadiri beberapa Perguruan Tinggi dari Yogyakarta dan Jawa Tengah yang tergabung dalam FKMTHI.

Rektor menyebut jurusan Ilmu Al Qur’an dan Tafsir (IAT) FUAH beberapa kali menghadirkan ahli dibidang Al Qur’an dan Tafsir termasuk pada saat ini menghadirkan Prof. Nasaruddin Umar.

“Ini membuktikan jurusan IAT memiliki komitmen untuk mengembangkan akademik. Prodi yang istimewa untuk mengupayakan mahasiswa menghafal, mendalami dan menghayati Al Qur’an, “katanya.

Acara dibuka oleh Bupati Banyumas, dalam hal ini diwakili oleh Amrin Ma’ruf, M.Si. Dalam sambutan tertulisnya Bupati Banyumas mengucapkan selamat ulang tahun yang ke 4 untuk prodi IAT, semoga mampu memberikan sumbangsih bagi masyarakat. Bupati mengatakan Untuk mentafsirkan Al Qur’an tidak bisa dilakukan oleh sembarang orang, perlu ahli dengan keilmuan yang mendalam agar hasilnya tidak menyimpang dan membahayakan.

Dibutuhkan lembaga seperti IAIN Purwokerto untuk mempunyai generasi yang memiliki pemahaman agama Islam yang kuat. Bupati mengucapkan terimakasih kepada IAIN Purwokerto atas kontribusinya terhadap pembangunan daerah, sinergitas perlu terus dibangun. Masukan dan pandangannya dibutuhkan oleh Pemerintah Kabupaten Banyumas.  Semoga acara ini sukses dan bermanfaat.

Rangkaian acara Gebyar Tafsir diisi dengan Dialog Kebangsaan, Musywil FKMTHI DIY jateng, Musabaqah Syarhil Qur’an. Musabaqah Qira’atil Kutub, Lomba Multimedia Al Qur’an, puitisasi Al Qur’an dan Workshop oleh Sanggar Living Al Qur’an.

Usai pembukaan, acara dilanjutkan dengan Dialog Kebangsaan. Panitia menghadirkan tiga narasumber yaitu Prof. Nasarudin Umar, Ph.D (Imam Besar Masjid Istiqlal/Rektor PTIQ), Kapolres Banyumas dan Dr. Safwan Mabrur (Dosen IAIN Purwokerto).

Mewakili Kapolres, Kepala Bagian Sumber Daya Manusia Polres Banyumas Kompol Mugiman, MH mengatakan bahwa kampus disinyalir belum bebas dari paham radikalisme, untuk itu perlu koordinasi antar lembaga dengan melakukan pemetaan. Mugiman mengajak untuk memperkuat ukhuwah basyariah, wathaniyah dan Islamiyah.

Lebih lanjut, Mugiman menjelaskan tentang latar belakang munculnya radikalisme dan terorisme seperti pemahaman yang keliru, ketidakadilan sosial, dendam politik dan kesenjangan ekonomi. Untuk itu diperlukan strategi melalui deradikalisasi, pendekatan humanis dan pendekatan sosial.

Sementara itu Dr Safwan Mabrur menjelaskan mengenai ayat-ayat jihad dalam Al Qur’an. Menurutnya jika dilihat dari latar belakang turunnya ayat ayat yang berkaitan dengan jihad, tidak ada satupun yang berkonotasi untuk berperang dan melegalkan tindak kekerasan dalam menyelesaikan persoalan. Sebaliknya jihad justru semata-mata ditekankan untuk meningkatkan ibadah kepada Allah SWT.

“Tidak ada halangan bagi kaum muslimin untuk menerima perdamaian, bahkan dianjurkan menawarkan perdamaian untuk kemaslahatan dan dilarang saling bemusuhan. Oleh karena itu melihat Nash jangan pada tataran harfiahnya saja dan jangan memahami ayat secara sepotong-sepotong, “jelasnya.

Selanjutnya Prof. Nasarudin menambahkan pemaparan Dr. Safwan tentang jihad, Dia mengatakan jihad itu bukan untuk mematikan tapi untuk menghidupkan.

Pada Dialog ini Prof. Nasarudin Umar berbicara tentang Re Reading The Qur’an. Beliau menjelaskan membaca ayat jangan hanya Al Qur’an tapi baca juga ayat makrokosmos (alam semesta), jika belum melakukan hal itu berarti belum memahami Al Qur’an.  Al Qur’an itu secara harpiah artinya himpunan, himpunan dari yang tertulis dan tidak tertulis.

“Begitu juga alangkah miskinnya mahasiswa jika gurunya hanya dosen, mari tembus batas belajar pada alam, bahkan nabi Musa pun belajar pada pohon, jadi jangan berhenti hanya sebatas Kitabullah “terangnya.

Kemudian Prof. Nasarudin menerangkan perbedaan Kitabullah dan Kalamullah, salah satunya tentang Tanzil dan Inzal. Dalam perspektif Ilmu Al Qur’an, Tanzil diartikan turunnya Al Qur’an secara berangsur-angsur. Sedangkan Inzal diartikan proses penurunan Al Qur’an oleh Allah SWT ke langit dunia secara sekaligus.

Prof. Nasarudin juga memaparkan kandungan Al Qur’an yang berlapis lapis yaitu Ibarah untuk orang awam, Isyarah untuk khawas, Lathaif untuk Wali dan Haqaiq untuk para Nabi.