Discussion Series 2, FEBI UIN SAIZU Tawarkan Dekonstruksi Paradigmatik Pengembangan Produk Bank Syariah

Purwokerto–Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) Universitas Islam Negeri Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN SAIZU) menggelar diskusi “Dekonstruksi Paradigmatik Pengembangan Produk Bank Syariah” secara daring melalui zoom meeting.(02/08/2021

Menghadirkan pemateri Dr. H. Jamal Abdul Aziz, M.Ag Dekan FEBI UIN SAIZU dengan moderator Enjen Zaenal Mutaqin, M.Ud..

Dr. Jamal Abdul Aziz, M.Ag mengatakan bahwa paradigma pengembangan produk bank syariah selama ini adalah bebas bunga, berbasis akad muamalah fiqhiyah, dan kompetitif terhadap produk bank konvensional. Dua paradigma pertama sesungguhnya justru menjadi batu sandungan bagi perbankan syariah untuk dapat berkompetisi dengan perbankan konvensional.

“Dalam perspektif hukum Islam konsep perbankan syariah dapat dianggap sebagai hasil ijtihad, karena konsep perbankan syariah beserta produk-produknya, dengan berbagai bentuk transformasi akad yang terjadi di dalamnya belum dikenal pada masa Nabi. Hasil ijtihad tentu saja tidaklah mutlak (benar), tetapi bersifat nisbi/relatif, bisa benar bisa pula salah,” jelas Jamal.

“Paradigma yang mendasari perbankan syariah, termasuk di dalamnya aspek pengembangan produknya juga bersifat relatif, tidak mutlak. Paradigma pengembangan produk tersebut lebih didasarkan pada asumsi kebaikan atau bahkan lebih baik di dalam mengambil sebuah doktrin keagamaan, kendati doktrin yang dipegang tersebut pada dasarnya juga bersifat nisbi. Dalam konteks ibadah, sesuatu yang dianggap lebih baik tersebut dinamakan dengan fadail al-a’mal. Doktrin haramnya bunga, misalnya, sifatnya tidak mutlak (benar), karena ia merupakan hasil ijtihad yang besifat muhtamal (relatif), boleh jadi benar dan boleh jadi sebaliknya,” lanjutnya.

“Demikian pula akad-akad muamalah fiqhiyyah, lebih nyata kenisbiannya, karena akad-akad muamalah sebagaimana diformulasikan oleh para fuqaha dalam kitab-kitab fikih sebagian besar merupakan adopsi terhadap praktik masyarakat Arab, baik sebelum Islam datang ataupun sesudahnya. Artinya sejak semula akad-akad tersebut beserta jenis-jenisnya tidak diatur secara khusus oleh Syari’, karena memang bukan itu tujuan utama diturunkannya syariat Islam,” tambah Jamal.

Print Friendly, PDF & Email