Are We Having Fun Yet?

Catatan Invitasi Pekan Pembinaan Bakat dan Minat Mahasiswa untuk PTKIN  KE-7   (IPPBMM VII PTKIN 2018) IAIN PURWOKERTO

oleh: Oki Edi Purwoko

Jika kita mau menilai kembali bahwa kesejatian roh dari aktivitas olah raga dan berkesenian adalah permainan. Dan tidak ada ideologi yang lebih menggerakkan permainan selain kegembiraan, suatu “Ideologi of fun”.

Berangkat dari pengertian sebagai permainan, maka olah raga dan berkesenian memandang banyak hal dari kacamata yang berbeda. Dalam keseharian, suatu aturan konteksnya bisa jadi merepotkan karena keberadaannya mengikat dan harus kita turuti. Tetapi dalam permainan, aturan harus ada, karena permainan tanpa aturan, maka tidak akan jadi fun. Tantangan misalnya, dalam keseharian adalah objek atau situasi yang membebani, tetapi dalam permainan, tantangan harus ada, karena fun akan muncul jika kita bisa menghadapi tantangan – tantangan tersebut. Keseriusan, dalam pengertian keseharian bisa berarti melelahkan tetapi dalam permainan, keseriusan adalah kesungguhan hati, kembali lagi agar suatu permainan menjadi lebih fun.

Permainan adalah aktivitas yang “tidak serius” dan berada di luar keseharian seorang manusia yang secara kontradiktif membuat orang di dalamnya terhisap masuk dalam suatu “keseriusan”. Walaupun kosakata “serius” kurang tepat, bahkan kontradiktif dengan permainan dan fun. Orang Yunani serius berpendapat bahwa kesempurnaan fisik terbentuk dari keseimbangan antara aktivitas fisik dan jiwa, maka “Kalogathia”, bahwa menjadikan diri kita bugar adalah melalui olahraga dan musik.

Lebih serius lagi, di zaman modern ini permainan dan fun dibawa-bawa kepada keuntungan yang sifatnya material. Maka dalam dunia modern Fun menjadi aktivitas yang dijual menjadi komoditas. Tak salah jika para pemikir gaya kritis menganggap jika olah raga dan kesenian dari konstruksi produk budaya populer, akhirnya  kehilangan jiwa dan karakter utamanya.

Dari diskursi tesebut tersebut kemudian muncul pertanyaan, apakah ideologi fun masih penting ketika kesuksesan diukur dalam parameter yang didominasi material-ekonomis ini?

Sebagai permainan , suatu kreasi fisik-al  dalam berolah raga dan berkesenian, ingin menumbuhkan sesuatu yang lebih efektif dalam mengejar suatu kesenangan. Sehinga dalam olahraga dan seni lahir banyak hal yang sifatnya baru dan menyegarkan.

Dengan daya kreasi ini maka, olah raga dan seni sesungguhnya menjadi sumber inovasi. Dengan prinsip mengejar fun, maka berolah raga dan berkesenian kembali pada hakikatnya sebagai suatu wahana untuk mengembangkan kekayaan pribadi seorang manusia, sehingga pendidikan yang melibatkan olahraga dan seni tidak hanya menekankan kepada kesuksesan yang sifatnya material-ekonomi semata tetapi juga kepentingan mereka menjadi manusia seutuhnya.

Pesta Olahraga dan seni mahasiswa seperti IPPBMM ini mengingatkan kita bahwa fun, adalah daya yang menggerakkan kreatifitas dan dari padanya akan lahir mental – mental yang inovatif. Bahwa dalam suatu permainan, kegembiraan atas kemenangan dan kesedihan atas kekalahan mengalihkan pandangan kita  sejenak dari hal – hal yang menjadi prioritas dalam keseharian hidup seperti uang dan barang.. Barangkali jika Bawor yang kekanak kanakan dan kerjanya berkelakar ini mau berkomentar, bukan uang atau material yang menjadikan daya dorong kita hari ini, tetapi kesenangan dan karya. So, are you having fun yet?

Share it:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *