MAHASISWA BIDIKMISI IAIN PURWOKERTO JADI PRESENTER DI MALAYSIA

HUMAS- Mahasiswa IAIN Purwokerto peraih BIDIKMISI dari Fakultas Ushuludin Adab dan Humaniora (FUAH) Akhmad Roja Badrus Zaman ikuti agenda Aceh Development of Malaysia. Agenda yang berlangsung beberapa waktu yang lalu itu bertempat di International Islamic University Of Malaysia (IIUM) Kuala Lumpur, Malaysia. Menurut Badrus agenda itu merupakan forum internasional untuk berbagi pengetahuan dan hasil penelitian tentang strategi pembangunan Aceh dan Indonesia pada umumnya.

Melibatkan pembicara dari dalam dan luar negeri, agenda itu diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Rincong Tanoh (TARSA) bekerjasama dengan Asosiasi Internasional Aceh Scholars (IAAS), The Aceh Klub Kuala Lumpur, Badan Kebajikan Mahasiswa Aceh (BAKADMA) UKM , Persatuan Pelajar Aceh (PPA) UPM, Aceh Himpunan Mahasiswa (ASA) UM, dan Aceh Student Club (ASC) USM. Organisasi tersebut merupakan organisasi-organisasi  pelajar asal Aceh yang sedang berdomisili dan menuntut ilmu pada berbagai perguruan tinggi di Malaysia. Pembahasan dalam kegiatan ini mencakup beberapa aspek antara lain,  Education, Language, Sociology, History, Economics, Management, Law, Engineering and Science, Information Technology, Health, Agriculture, Food, Fishery, Veterniay, dan lain sebagainya.

Pada kegiatan itu dirinya berkesempatan menjadi presenter setelah sebelumnya, menulis paper yang berjudul Optimalisasi Pengembangan Bahasa dan Sastra sebagai Pembentuk Karakter Bangsa; Progresifitas Indonesia Berintegritas. Menurut Badrus apresiasi dari peserta cukup positif terhadap paper yang disajikannya, pasalnya saat ini krisis karakter perlu menjadi perhatian serius mengingat banyaknya persoalan di Indonesia yang bersumber dari lemahnya karakter positif dari masyarakatnya.

Penggunaan Bahasa Indonesia menurut Badrus merupakan salah satu wujud cerminan kecintaan generasi muda, termasuk pelajar dan mahasiswa, terhadap bahasa bangsanya. Saat ini pada tahap penerapan seolah-olah kecintaan generasi muda terhadap bahasa Indonesia sedang menunjukkan penurunan jika dibandingkan dengan sikap dan semangat generasi muda menjelang dan awal kemerdekaan, tegasnya. Badrus mencontohkan, pada awal kemerdekaan generasi muda memandang bahwa bahasa Indonesia merupakan alat yang sangat penting dalam mencapai persatuan Indonesia dalam rangka meraih kemerdekaan. Namun, menurut Badrus kondisi sekarang bahasa Indonesia tak lebih dari sekadar sebagai alat komunikasi. Banyak pihak mengakui bahasa Indonesia sebagai lambang dan identitas bangsa belum secara nyata dapat dijadikan sebagai perekat kesatuan dan persatuan nasional, katanya.

Ketertarikan badrus mengikuti agenda itu dikarenakan ia berkeinginan mengasah kemampuan meneliti sekaligus pengalaman mengikuti konferensi tingkat internasional. “Yang paling berkesan di konferensi yaitu tantangan kita untuk bisa presentasi di forum internasional bareng mahasiswa S-2, dosen, dan profesor. Mahasiswa S-1 sangat jarang di sana,” pungkasnya. (van)

Kata kunci Anda:

anything

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *